Presiden Joko Widodo. (FOTO: MI/Ramdani)
Presiden Joko Widodo. (FOTO: MI/Ramdani)

Jokowi Kuasai Ketahanan Pangan

Ekonomi debat capres ketahanan pangan Jokowi-Ma`ruf
13 Februari 2019 13:38
Jakarta: Pangan akan menjadi salah satu tema dalam debat calon presiden (capres) babak kedua yang akan berlangsung pada Minggu, 17 Februari nanti. Pengamat Pertanian Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Sentosa melihat capres nomor urut 01 Joko Widodo lebih diuntungkan.
 
Menurut dia, Jokowi sudah memiliki kinerja nyata yang bisa dinilai langsung masyarakat. Salah satunya ialah dalam empat tahun membawa peringkat ketahanan pangan Indonesia naik cukup signifikan dari 72 pada 2014 menjadi 65 di 2018 dari total 113 negara.
 
Peringkat ketahanan pangan itu dinilai dari tiga komponen, yakni ketersediaan, keterjangkauan, dan keamanan. Dari sisi ketersediaan, pemerintah melaksanakan tugas dengan baik walaupun tidak bisa dimungkiri, sebagian pangan yang tersedia berasal dari impor.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tapi konsep ini kan tidak melihat dari mana bahan pangan itu berasal, yang penting tersedia, mau lokal atau impor tidak masalah," ujar Dwi kepada Media Indonesia, Selasa, 12 Februari 2019.
 
Bahkan, jika melihat Singapura sebagai pemuncak klasemen ketahanan pangan dunia, hampir 100 persen kebutuhan bahan pangan mereka didatangkan dari luar negeri.
 
"Di satu sisi, Pemerintah Singapura bisa menjaga daya beli masyarakat tetap tinggi. Ini masuk pada poin selanjutnya, yaitu keterjangkauan. Jadi, pemerintah bisa menyediakan dan masyarakat bisa menjangkau. Keduanya berjalan baik. Indonesia pun sedang mengalami hal ini," jelasnya.
 
Hanya saja, yang perlu diperhatikan ialah naiknya peringkat ketahanan pangan diikuti lonjakan impor bahan pangan yang cukup signifikan. Pada 2014, dari 11 komoditas pangan yang dipantau, total volume impor tercatat sebesar 18 juta ton. Sementara itu, pada 2018 naik menjadi 22 juta ton.
 
Tidak Baik
 
Di sisi lain, kubu Prabowo menjanjikan penghentian impor dan penurunan harga pangan. Dwi menilai kebijakan itu tidak cukup baik. "Kalau pangan murah kasihan petani," cetusnya.
 
Di sisi lain, kalau mahal nanti efeknya besar. Harga pangan mahal biasanya diikuti guncangan politik. Jadi, yang seharusnya dilakukan itu menjaga ketersediaan dan harga pangan tetap stabil. Bukan menjanjikan murah. "Itu salah," ucapnya.
 
Tokoh senior Partai Golkar, Aburizal Bakrie, mengutarakan salah satu cara memperkuat ketahanan pangan nasional, yakni melalui swasembada di sektor pertanian. Menurut dia, tanah Indonesia sangat subur sehingga sektor pertanian harus mendapat perhatian lebih.
 
"Harusnya sektor pertanian menjadi perhatian. Dari sinilah kita harusnya bisa swasembada dan menjaga ketahanan pangan kita," kata Aburizal baru-baru ini.
 
Dewan Pakar Bidang Ekonomi Prabowo-Sandi, Laode Kamaluddin, mengatakan, pihaknya telah menyiapkan konsep digital farming, digital fishering, serta mekanisasi produk pertanian dan perikanan agar anak-anak muda kembali bertani. "Kita harus mulai berpikir kepada generasi milenial." (Media Indonesia)
 

 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif