Pengamat Marketing Hermawan Kartajaya. Medcom/Arif.
Pengamat Marketing Hermawan Kartajaya. Medcom/Arif.

Pilpres 2019, Capres-Cawapres Bertarung Merek Dagang

Ekonomi pilpres 2019 Jokowi-Ma`ruf Prabowo-Sandi
Arif Wicaksono • 19 Desember 2018 16:15
PERANG merek dagang terjadi bukan hanya dalam dunia bisnis, tetapi juga politik. Itu yang sekarang muncul ketika melihat persaingan kedua calon presiden yakni Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno. Masing-masing calon menjual 'kecapnya' untuk memikat suara pemilih dan menjadi pemenang.

Dalam catatan Medcom.id, berulang kali pasangan Prabowo-Sandiaga Uno berusaha melawan pihak petahana. Pihak penantang berusaha menjelek-jelekan kinerja pemerintah dan mengeluhkan sulitnya kehidupan rakyat di era Jokowi. Sementara pihak pemerintah terus menunjukkan raihan kinerja dalam satu periode ini. Banyak simbol lainnya.

Medcom.id pun mempertanyakan hal ini kepada Pengamat Marketing Hermawan Kartajaya. Dia memang bukan pengamat politik, tetapi pengetahuannya dalam dunia marketing memberikan pencerahan kepada publik mengenai strategi pemasaran kedua calon masing-masing. Tinggal publik yang memilih 'kecap' mana yang paling enak.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Bagaimana Bapak melihat tren politik marketing dalam Pemilu 2019? Jadi orang politik ketika pakai marketing ketika persaingan terbuka. Marketing enggak perlu ketika persaingan enggak dibuka. Dengan one man one vote maka persaingan akan lebih terbuka.

Dua pasangan akan menjadi lebih terbuka dan ada sembilan eleman penting serta ada tiga yang menentukan (Positoning, Diferentiation, Branding) PDB. Kalau enggak percaya PDB maka dia bukan orang marketing.

Setelah itu akan berlanjut dengan service dan proses tawaran tadi dengan proses yang enggak terlalu panjang. Kalau fokus PDB, maka orang akan lihat ke sosoknya dari political marketing menjadi personal branding. 

Lewat simbolisasi, masing-masing enggak bisa menghindar dari persepsi sebagai apa dan satunya sebagai apa. Simbol-simbol yang keluar ya seperti itu. 
 
Pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno lewat Sandi kerap mengeluarkan 'Kata Emak-Emak' yang mengeluhkan kenaikan harga. Bagaimana Bapak melihatnya?

Emak-emak itu kan segmen. Kalau saya kan segmen ada tiga yakni youth, woman, netizen. Trennya karena anak tua ikut anak muda dan segmen yang penting adalah perempuan dan diciptakan oleh beliau dan kalau ingat emak-emak maka ingat dia dan segmen yang lagi suffering (menderita secara ekonomi).

Penamaan segmen ini adalah memperkuat PDB dengan segmentasi dan marketing dan anak muda, perempuan, maka terjadi.

Kalau perempuan bisa tua dan muda. Tetapi kalau emak-emak maka menurut saya yang disasar adalah ibu-ibu dari Prabowo dan Sandiaga Uno. Sementara dari Jokowi-Ma'ruf Amin mengatakan mereka itu (wanita) ibu bangsa yang melahirkan anak untuk bangsa. Jadi dibuat berbeda.

Bagaimana kritik biaya hidup di Jakarta lebih mahal ketimbang di Singapura?

Itu maksudnya lebih ke segmen emak-emak bukan milenial. Milenial diajak ngomong begitu ya kurang kena. 

Kalau youth (anak muda) diajak sesuatu yang gampang seperti pakai istilah 'winter is coming', maka kalangan youth ngerti dan ini menurut saya pasangan targetnya ke situ lebih ke milenial. Cara berpikirnya beda youth sama emak-emak.

Kalau simbol yang dipakai petahana bagaimana pak?

Yang satu pakai positivisme dan satunya pakai negativisme dan mulai kelihatan PDB-nya masing-masing. Jokowi pakai 'winter is coming' dengan gaya global dan supaya seluruh dunia berubah dan Prabowo pakai slogan Indonesia Great Again. 

Jangan-jangan (Prabowo) mengidolakan Donald Trump dan pendukungnya kaya Fadli Zon kan pernah foto sama Donald Trump. Itu simbol dengan risiko yang diambil dalam persaingan supaya beda.
 
Lebih menarik mana, milenial atau segmen emak-emak?

Kalau dilihat segmen anak muda capai 40 persen dari pemilih, segmen perempuan juga lebih banyak dari laki-laki di Indonesia.  Segmen bermacam-macam ada perempuan yang muda dan ada perempuan yang enggak muda.
 
Milenial terbagi lagi ada yang netizan dan ada yang enggak. Netizen ini positioning dalam segmen masing-masing kalau pakai ini pakai simbol seperti apa dan akan seperti apa.

Jadi mereka akan konsisten dengan segmennya masing-masing?

Harus konsisten, jadi kalau Pak Jokowi pakai winter is coming dan lebih ke gaya low profile dan harus konsisten dengan risikonya. 
 
Jika Pak Prabowo ambil jalan lain seperti dulu, 2030 negara Indonesia akan hancur, maka sekarang ada itu kan gaya Donald Trump bangun pesimisme dan itu gaya politik.

Saya lihatnya enggak apa-apa asal konsisten walapun sistem politik AS dan Indonesia berbeda. Posisinya sekarang Jokowi jadi incumbent dan posisi Donald Trump waktu itu kan berbeda karena waktu itu ada kekosongan.

Jadi oposisi akan terus menciptakan negativisme?

Karena oposisi harus mengumbar kelemahan incumbent dan sisi emak-emak itu penuh dengan negativisme, dengan berusaha masuk ke segmen perempuan. Tentunya Pak Jokowi membuat kata ibu bangsa untuk memberikan segmen positivisme terhadap segmen itu. 
 
Tetapi kan bisa dimengerti karena incumbent pasti ngomong yang positivisme, jadi secara marketing harus beda maka pada hari H orang lebih banyak milih sana atau situ siapa yang konsisten akan menang.
 
Banyak yang bilang gaya Prabowo kurang merakyat ketimbang Pak Jokowi?

Saya melihat matrik kalau marketing ada Business to Business (B2B). Kalau di politik ada bisnis to tokoh, enggak ke publik dan variable satunya bisa offline dan online. Kalau Jokowi kuat di blusukan dan B2B serta positioning itu harus kuat jangan ditinggal.

Pak Prabowo kalau niru ke situ ya repot juga. Kalau saya lihat Pak Prabowo ikut-ikutan maka persepsinya kalah dia lebih ke B2B dan lebih ke offline dan online.

Apakah gaya masing-masing kedua calon bisa diubah?

Kalau blusukan ya blusukan terus seperti Pak Jokowi. Kalau enggak gitu ya bisa kalah.

Di marketing itu ada konsep kalau secara image kedua barang sama, maka yang bisa dipertarungkan adalah price. Maka kalau di politik yang main ya sembako itu. 

Itu kalau costumer-nya mau beli price, ya itu laku, kalau enggak kan percuma.

Bagaimana dengan strategi play victim yang dimainkan kubu penantang petahana?

Kalau saya jadi oposisi ya saya mesti gitu. Play victim salah satu yang bisa dimainkan oleh oposisi tetapi itu bekerja atau tidak itu masalah lain. Terutama kalau sudah ketahuan (bohong) seperti pengakuan Ratna Sarumpaet apa ini bisa dipakai? 

Menurut saya ini agak kecolongan dan ketika Prabowo minta maaf maka dia berusaha menunjukkan bahwa dia memiliki jiwa kesatria meskipun sudah ditipu.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi