Illustrasi. MI/Iskandar.
Illustrasi. MI/Iskandar.

BI Isyaratkan Kembali Pangkas Suku Bunga Acuan

Ekonomi bank indonesia
Husen Miftahudin • 22 Juli 2019 15:29
Jakarta: Bank Indonesia (BI) mengisyaratkan untuk kembali memangkas suku bunga acuan atau BI 7-Days Reverse Repo Rate di sisa tahun ini. Saat ini posisi suku bunga acuan berada di level 5,75 persen, baru turun 25 basis poin (bps) dari posisi bulan sebelumnya sebesar enam persen.
 
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan penurunan suku bunga memungkinkan bila inflasi terus terkendali. Terkendalinya inflasi membuat bank sentral punya ruang untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi domestik lewat kebijakan moneternya.
 
"Pelonggaran moneter tetap terbuka, baik itu dari likuiditas maupun penurunan suku bunga lebih lanjut," ujar Perry dalam Rapat Laporan Semester I dan Prognosa Semester II-2019 bersama anggota Badan Anggaran di kompleks parlemen DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 22 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen pada periode Juli 2019. Otoritas juga menurunkan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility masing-masing 25 bps. Sehingga, suku bunga deposit facility menjadi lima persen dan suku bunga lending facility menjadi 6,50 persen.
 
Penurunan suku bunga diklaim membuat bunga di pasar keuangan domestik akan tetap menarik bagi investor global jika merujuk pada selisih suku bunga pasar (differential interest rate) antara Indonesia dan negara maju.
 
Perry membandingkan suku bunga obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun (US Treasury Yield) yang saat ini sebesar 1,9 persen hingga dua persen, dengan Surat Berharga Negara Indonesia bertenor 10 tahun yang masih berada di kisaran tujuh persen.
 
Dengan selisih bunga atau marjin antara kedua instrumen yang masih sekitar lima persen itu, Perry optimistis investor global akan turut melirik pasar keuangan Indonesia.
 
Selain selisih suku bunga dengan AS, risiko gagal bayar (credit default swap/CDS) Indonesia juga kian menurun. Dia menyebut CDS Indonesia untuk pasar keuangan bertenor lima tahun saat ini berada di kisaran 80 poin, atau terus menurun dibanding Maret 2019 yang sebesar 100 poin.
 
Sementara itu, proyeksi parameter ekonomi makro Bank Indonesia di semester II-2019 tak jauh berbeda dengan pemerintah. Adapun asumsi makro ekonomi untuk pertumbuhan ekonomi diproyeksi 5,2 persen secara year on year (yoy), inflasi 3,1 persen (yoy), dan kurs rupiah sebesar Rp14.303 per USD.
 
"Pertumbuhan ekonomi di semester II-2019 akan lebih baik, inflasi rendah, kurs rupiah menguat, dan suku bunga akan lebih rendah," imbuh Perry.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif