Hubungan Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group tidak lagi harmonis. Foto: Antara/Fikri Yusuf
Hubungan Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group tidak lagi harmonis. Foto: Antara/Fikri Yusuf

Garuda dan Sriwijaya Dinilai Tidak Satu Visi

Ekonomi garuda indonesia sriwijaya air
Suci Sedya Utami • 10 November 2019 16:12
Jakarta: Hubungan Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group tidak lagi harmonis seperti awal pertama menjalin kerja sama. Anggota Komisioner Ombudsman RI Alvin Lie mengatakan, masalah antara dua maskapai penerbangan nasional ini tidak hanya terjadi sekali. Keduanya pernah rujuk usai berselisih paham.
 
"Ini akibat sejak awal 'nikahnya' terburu-buru, jadi belum dibahas secara detail hak dan kewajiban masing-masing," kata Alvin saat dihubungi Medcom, Minggu, 10 November 2019.
 
Dirinya mengatakan antara Garuda dan Sriwijaya tidak ada kesamaan visi dalam menjalin kerja sama manajemen. Ia mengatakan tujuan Garuda merangkul Sriwijaya yakni agar Sriwijaya bisa membereskan keuangan mereka sehingga bisa membayarkan kewajiban-kewajiban pinjaman atau utang pada beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN), salah satunya anak usaha Garuda Indonesia Group, Garuda Maintenance Facility (GMF).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sedangkan Sriwijaya sedari awal memiliki harapan atau ekspektasi bahwa kerja sama dengan Garuda bisa meningkatkan profitabilitasnya sehingga perusahaaan kembali sehat. Perbedaan visi ini, kata Alvin, yang dari awal tidak dituangkan dalam kontrak kerja sama yang detail.
 
Hal ini diperparah dengan komunikasi keduanya yang tidak lancar. "Visinya berbeda dan diperparah dengan kemungkinan perjanjian awal tidak detail sehingga muncul ketidakpuasan," ujar Alvin.
 
Menurut dia, kerja sama ini bisa berlanjut apabila keduanya sama-sama merasa saling membutuhkan. Apabila salah satu merasa pihaknya bisa berjalan sendiri, maka jangan harap hubungan dua maskapai ini bakal mulus ke depannya.
 
Alvin mengimbau agar Garuda dan Sriwijaya bisa memperbaiki komunikasi. Sehingga keduanya dapat mengerti dan memahami satu sama lain.
 
Hubungan Garuda-Sriwijaya kembali memanas yang ditandai dengan dikeluarkannya surat status kerja sama manajemen oleh Garuda Indonesia Group. Surat tersebut memberitahukan pada Sriwijaya Group bahwa Garuda Indonesia Group tidak dapat melanjutkan kerja sama manajemen. Surat tersebut ditandatangani oleh Direktur Pemeliharaan & Layanan Garuda Indonesia Iwan Joeniarto.
 
"Karena keadaan dan beberapa hal yang belum diselesaikan oleh kedua belah pihak, kami menyesal memberi tahu Anda bahwa Sriwijaya sedang melanjutkan bisnis sendiri," tulis surat tersebut.
 
Surat itu menegaskan Sriwijaya Group tidak akan lagi menjadi anggota Garuda Indonesia Group. Hubungan antara Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Group akan dilanjutkan pada basis bisnis-ke-bisnis.
 
Setelah surat tersebut keluar, Kuasa Hukum dan Shareholder Sriwijaya Air Group Yusril Izha Mahendra pun membeberkan utang Sriwijaya makin membengkak salah satunya sejak menjalin kerja sama manajemen (KSM) bersama Garuda Indonesia Group. Padahal kerja sama tersebut dimaksudkan untuk membenahi kondisi keuangan Sriwijaya selama ini yang carut marut.
 
Yusril mengatakan awalnya kerja sama ini dibuat untuk meningkatkan kapabilitas Sriwijaya untuk bisa membayar utangnya pada beberapa BUMN. Namun dalam perjalanannya terjadi ketidakjelasan terhadap perjanjian awal yang membuat Sriwijaya semakin sakit.
 
"Terjadi dispute, menurut persepsi Sriwijaya utang bukannya berkurang malah membengkak selama di-manage oleh Garuda," kata Yusril.
 
Yusril menjelaskan, pihak Sriwijaya menilai kerja sama ini tidak efisien. Misalnya setelah pemeliharaan pesawat diambil-alih oleh Garuda Maintenance Facility (GMF) Aeroasia, biaya yang mesti dikeluarkan Sriwijaya malah lebih mahal. Selain itu selama ini Sriwijaya memiliki asrama untuk menampung para kru pesawat, namun setelah kerja sama tersebut malah dipindahkan ke hotel.
 
"Sriwijaya merasa dominasi Garuda terlalu jauh intervensinya pada Sriwijaya, sehingga ini malah tidak efisien," tutur dia.
 
Ia bilang, Garuda secara sepihak juga menerapkan management fee sebesar lima persen dan profit sharing sebesar 65 persen dari perusahaan. Hal tersebut menurut Yusril bisa membuat perusahaan kolaps.
 
"Jadi ini sebenarnya mau menyelamatkan Sriwijaya atau malah menghancurkan Sriwijaya?" cetus Yusril.
 

 

(DEV)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif