Menteri Riset Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro. FOTO: MI/SUSANTO
Menteri Riset Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro. FOTO: MI/SUSANTO

Menristek Beberkan Strategi Pengembangan Ekonomi Digital

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekonomi indonesia ekonomi digital
Antara • 20 November 2019 08:42
Jakarta: Menteri Riset Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro membeberkan strategi pengembangan ekonomi digital agar semakin berkontribusi dalam menggerakkan roda perekonomian di Tanah Air.
 
"Kita harus makin menguasai berbagai lini di dalam ekonomi digital itu sendiri, terutama di e-commerce. Kalau kita lihat dari on-demand transportation, fintech dan e-commerce, e-commerce masih jadi unggulan kita," ujar Bambang, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Rabu, 20 November 2019.
 
Bambang menuturkan, dari lima unicorn atau perusahaan perintis yang memiliki valuasi di atas USD1 miliar, tiga unicorn bergerak di bidang e-commerce, sedangkan dua lainnya di on-demand transportation dan sistem pembayaran. Untuk menunjang keberhsilan e-commerce tersebut, mau tidak mau topik lima tahun ke depan adalah Sumber Daya Manusia (SDM).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena mau diotak atik e-commerce itu, e-commerce kalau ingin bertahan dan kompetitif, mereka harus R&D secara terus menerus, tidak boleh putus. Karena persaingan e-commerce itu datangnya bukan lagi tahunan, bulanan, mingguan, mungkin datangnya harian. Itu harus bisa diatasi kalau mereka punya R&D yang kuat," kata Bambang.
 
Intinya, untuk mengembangkan e-commerce membutuhkan SDM yang unggul. Sementara saat ini, unicorn-unicorn tersebut masih harus mengimpor ahli-ahli komputer dari luar Indonesia. Kendati demikian, selain mengembangkan ekonomi digital, lanjut Bambang, inovasi di sektor riil atau industri juga harus dikembangkan.
 
"E-commerce itu kan harus ada yang diperdagangkan baik barang ataupun jasa. Jangan sampai kita sibuk dan fokus dengan e-commerce-nya tapi barangnya malah impor. Ketika impor nanti akan berdampak ke neraca perdagangan kita dan ujungnya ke mata uang rupiah," kata Bambang.
 
Oleh karena itu, pihaknya kini justru fokus pada perusahaan perintis berbasis teknologi, namun tidak hanya digital. Bambang menginginkan produk inovasi Indonesia di sektor riil dan e-commerce dikembangkan oleh talenta dari dalam negeri. Ia mencontohkan Alibaba yang menjadi platform jual beli dari barang-barang dominan buatan Tiongkok sendiri.
 
"Ini kita yang masih ketinggalan. Kita masih asyik dengan platform-nya, ecommerce-nya, tapi kita belum menguasai apa yang diperdagangkan di dalam e-commerce itu sendiri," pungkas Bambang.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif