Illustrasi. MI/Panca Syaukarni.
Illustrasi. MI/Panca Syaukarni.

ISPO Kelapa Sawit Dukung 12 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Ekonomi kelapa sawit
Nia Deviyana • 22 Juli 2019 15:22
Jakarta: Kebijakan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dinilai efektif dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Adapun ISPO merupakan sertifikat yang menunjukkan bahwa usaha kelapa sawit yang dijalankan sebuah industri dilakukan secara berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan.
 
"Penelitian menunjukkan penerapan ISPO mendukung 12 dari 17 SDGs yang ditetapkan pemerintah," ujar Ketua Sekretariat Komisi ISPO R Aziz Hidayat saat mengisi diskusi di Aloft Hotel, Jakarta Pusat, Senin, 22 Juli 2019.
 
Adapun ke-12 SDGs tersebut antara lain no poverty (tidak ada kemiskinan), zero Hunger (tidak ada kelaparan), good health and well being (kesehatan dan kesejahteraan yang baik), dan work and economic growth (pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian industry, innovation, infrastructure (industri, inovasi dan infrastruktur), reducing inequality (mengurangi kesenjangan), responsible consumption and production (konsumsi dan produksi bertanggung jawab), climate action (aksi terhadap iklim), life on land (kehidupan di darat), dan partnership for the goals (kemitraan untuk mencapai tujuan.
 
Aziz menuturkan ISPO juga bisa menjadi indikator baik atau buruknya sebuah birokrasi di daerah. Sebab, sebelum mengajukan ISPO, petani yang berada di bawah naungan koperasi ataupun industri harus mengurus berbagai surat-surat sebagai syarat di tingkat pemerintahan daerah.
 
"Jadi ISPO ini juga bisa juga untuk mengontrol apakah birokrasi bekerja dengan baik, apakah ada pungli dan sebagainya. Kalau ada pelanggaran bisa diproses sesuai kewenangan hukum di daerah masing-masing," imbuhnya.
 
Aziz memaparkan ada beberapa kategori industri kelapa sawit yang harus menerapkan standar ISPO, yakni perusahaan perkebunan terintegrasi, perkebunan tanpa pabrik, pabrik tanpa perkebunan, pekebun plasma, pekebun swadaya, dan perusahaan perkebunan yang memproduksi CPO untuk energi terbarukan.
 
"Setiap kategori memiliki standar sendiri. Bagi perusahaan perkebunan memproduksi CPO untuk energi terbarukan mendapat kriteria tambahan untuk perhitungan emisi Gas Rumah Kaca," tuturnya.
 
Sejak 2011 hingga saat ini, realisasi ISPO telah menerbitkan sertifikat untuk 498 perusahaan yang terdiri dari 489 perusahaan, 5 koperasi swadaya, dan 4 KUD Plasma, dengan luas total area sebesar 4,1 juta hektare dan total produksi sebanyak 52,2 juta ton per tahun. Adapun total produktivitas Crude Palm Oil atau minyak kelapa sawit sebanyak 11,5 juta ton per tahun.

 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif