Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar (Foto: Kementerian ESDM)
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar (Foto: Kementerian ESDM)

2025, Pemerintah Bidik 7.200 MW dari Panas Bumi

Ekonomi panas bumi
Antara • 14 Agustus 2019 11:01
Jakarta: Wakil Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan pemerintah telah mematok target pasokan pembangkit listrik dari energi panas bumi mencapai 7.200 megawatt (mw) pada 2025. Berbagai macam upaya siap dilakukan pemerintah guna mencapai target tersebut.
 
Ia mengatakan sumber energi panas bumi yang terbukti ramah terhadap lingkungan itu pengembangannya mendapat banyak dukungan dari semua pihak dan tidak hanya dari pemerintah saja. Arcandra menilai energi panas bumi bukan hanya energi untuk masa kini, tapi juga untuk besok dan generasi selanjutnya.
 
"Dukungan pengembangan panas bumi sebagai sumber energi mendapat dukungan dari banyak pihak bukan hanya dari pemerintah, tapi juga dari rakyat Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan," ujar Arcandra, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Rabu, 14 Agustus 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dengan potensi panas bumi yang terbesar dengan total potensi yang mencapai 25,3 GW dan tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Karena potensi besar tersebut, pemerintah menargetkan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi pada 2025 bisa mencapai kurang lebih 7.200 mw.
 
"Untuk mencapai pemanfaatan energi terbarukan sebanyak yang sudah ditargetkan yakni 23 persen pada 2025 diperlukan langkah kerja keras bahwa 23 persen itu tidak saja ditulis sebagai landasan untuk menuju tujuan tersebut, tapi harus juga bekerja keras untuk mewujudkannya. Birokrasi yang sederhana agar pengurusan izin-izin bisa kita pangkas," kata Arcandra.
 
Pada kesempatan yang sama, Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla membuka secara resmi Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2019. IIGCE ke-7 yang dilaksanakan sejak 13 Agustus hingga 15 Agustus 2019 dengan mengusung tema "Making Geothermal the Energy of Today".
 
Dalam sambutannya Jusuf Kalla meminta pengembangan panas bumi sebagai sumber energi listrik dapat dipercepat sehingga pemanfaatannya dapat ditingkatkan menjadi lebih besar lagi dalam porsi bauran energi nasional.
 
"Geotermal di Indonesia seperti kita tahu bukan hal yang baru, 35 tahun yang lalu Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) Kamojang sudah beroperasi, jadi PLTP itu bukan hal yang baru karena sudah 35 tahun yang lalu kita mengenal geotermal di Indonesia. Menyusul kemudian PLTP Dieng, Patuha, Lahendong di Manado, semuanya sudah puluhan tahun," ujar Jusuf Kalla.
 
Pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi di Indonesia, menurut Jusuf Kalla, terasa masih sangat lambat. Pemanfaatan panas bumi dengan 35 tahun pengalaman saat ini baru mencapai sekitar 2.000 mw. Walaupun sudah tujuh kali melaksanakan konvensi ini namun pemanfaatannya masih sangat lambat sekali.
 
"Sudah tujuh kali melaksanakan pameran dan konvensi hasilnya baru 2.000 mw. Pdahal telah memiliki 35 tahun pengalaman," pungkas Wapres.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif