Tiga Strategi Kemenaker Hadapi Revolusi Industri 4.0

Gervin Nathaniel Purba 27 Oktober 2018 18:03 WIB
berita kemenaker
Tiga Strategi Kemenaker Hadapi Revolusi Industri 4.0
Direktur Persyaratan Kerja Kemenaker, S Junaedah (Foto:Dok.Kemenaker)
Jakarta: Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menyiapkan tiga langkah strategis dalam menjawab tantangan dan mengoptimalkan peluang pada era revolusi industri 4.0.

Tiga langkah tersebut yaitu meningkatkan link and match, masifikasi pelatihan kerja dan sertifikasi profesi, serta penanaman transversal skill (soft skill) dan entrepreneurship.

"Terkait link and match ini merupakan upaya pemerintah untuk memastikan kompetensi SDM kita sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dengan industri yang berbasis teknologi digital," ujar Direktur Persyaratan Kerja Kemenaker, S Junaedah, dikutip keterangan tertulis, Sabtu, 27 Oktober 2018.

Guna mewujudkan hal terebut Kemenaker bersinergi dengan Komite Vokasi Nasional yang merupakan wadah kolaborasi antara pemerintah dan industri.

Bersama Komite Vokasi Nasional, Kemenaker memetakan transformasi industri, penyiapan pekerjaan serta keterampilan masa depan, dan perencanaan tenaga kerja dengan para pelaku usaha dan industri pada masing-masing sektor prioritas.

"Rumusan yang dihasilkan dari kegiatan ini dapat menjadi masukan dan pijakan dalam melakukan perancangan program pelatihan," ujar Junaedah.

Junaedah mengungkapkan, perancangan program pelatihan tersebut meliputi perancangan program dan desain kurikulum dan standard pelatihan, penyelengaraan pelatihan kerja dan pemagangan. Sehingga output yang dihasilkan lembaga pelatihan kerja relevan dengan kebutuhan dunia industri.

Kedua, pemerintah juga memasifkan pelatihan kerja dan sertifikasi profesi. Strategi ini dibingkai dalam kebijakan triple skilling, yaitu skilling, up-skilling, dan re-skilling.

"Ketiga kebijakan ini penting untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan tenaga kerja terampil saat ini dan di masa yang akan datang," kata Junaedah memaparkan.

Selain itu pemerintah juga membekali SDM Indonesia dengan soft skill, entrepreneurship, dan digital skill. Laporan World Economic Forum menunjukkan 80 persen skill yang diperlukan tenaga kerja untuk bisa bersaing dalam era revolusi industri 4.0 merupakan penguasaan softskill.

"Di antara 10 skill utama yang diperlukan saat ini, tiga yang teratas adalah complex problem solving, critical thinking dan creativity," ucap Junaedah.



(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id