Ilustrasi. (FOTO: dok MI)
Ilustrasi. (FOTO: dok MI)

BCA Masih Butuh Akuisisi untuk Jalankan Bisnis Baru

Ekonomi bca
Ilham wibowo • 21 Agustus 2019 15:42
Jakarta: PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memastikan tengah mencari satu bank lagi yang bisa diakuisisi. BCA sebelumnya telah mendapat restu dari pemegang saham untuk mengakuisisi PT Bank Royal Indonesia.
 
Direktur BCA Rudy Susanto mengatakan secara keseluruhan pihaknya membutuhkan akuisisi dua bank untuk tetap menjalankan Rencana Bisnis Bank (RBB). Sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kata dia, agar penguasaan saham mayoritas bisa dilakukan akuisisi dua perusahaan menjadi keharusan.
 
"Kami masukkan dua agar bisa miliki mayoritas dan RBB kami ikuti. Kami cari bank lain yang kecil untuk di match ke Bank Royal," kata Rudy ditemui dalam paparan publik, di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu, 21 Agustus 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rudy memastikan pihaknya belum resmi melakukan penjejakan terkait akuisisi tersebut. Ia memastikan hasil akusisi keseluruhan akan menjadi anak usaha BCA di bidang keuangan digital. Perusahaan berkode emiten BBCA ini juga memproyeksikan pengembangan lini bisnis baru seperti penyaluran kredit ke usaha kecil menengah (UKM).
 
"Kami pikir nanti akan fokus pada virtual bank only. Kami tetap cari (akuisisi bank) dengan size tepat dan harga yang pas," ungkapnya.
 
Dalam paparan kinerja pada acara Publc Expose Investor Summit 2019, BCA mempertahankan kinerja yang solid ditopang oleh pertumbuhan yang positif pada berbagai segmen kredit. BCA menutup periode semester I 2019 dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 12,6 persen menjadi Rp12,9 triliun dibandingkan dengan Rp11,4 triliun pada tahun sebelumnya.
 
Pendapatan operasional Bank, yang terdiri dari pendapatan bunga bersih clan pendapatan operasional lainnya, meningkat 15.1 persen menjadi Rp34,2 triliun pada semester pertama 2019 dibandingkan Rp29,5 triliun pada tahun sebelumnya. Pendapatan bunga bersih meningkat 13,1 persen yoy menjadi Rp24,6 triliun, sementara pendapatan operasional lainnya tumbuh 24.5 persen yoy menjadi Rp9,6 triliun pada semester pertama 2019.
 
"Kami akan terus merespon lingkungan bisnis yang dinamis dengan menerapkan prinsip kehati-hatian serta tetap berinovasi dan beradaptasi untuk menyesuaikan perubahan perilaku nasabah, perkembangan teknologi dan pertumbuhan e-commerce," pungkasnya.
 
Pada semester I-2019 portofolio kredit meningkat 11,S persen yoy menjadi Rp565,2 triliun. Kredit korporasi tumbuh 14,6 persen yoy mejadi Rp219,1 triliun dan kredit komersial dan UKM meningkat 12,5 persen yoy menjadi Rp189,2 triliun.
 
Sementara itu, kredit konsumer meningkat 6,4 persen menjadi Rp152,0 triliun. Pada portofolio kredit konsumer, kredit beragun properti tumbuh 11,2 persen menjadi Rp90,7 triliun. Kredit kendaraan bermotor turun 1,5 persen menjadi Rp48,2 triliun, dipengaruhi oleh penurunan pembiayaan kendaraan roda dua.
 
Saldo outstanding kartu kredit tumbuh 6.0 persen menjadi Rp13,1 triliun pada Juni 2019. Di periode yang sama, pembiayaan Syariah meningkat 4,3 persen menjadi Rp4,9 triliun.
 
Pertumbuhan kredit dicapai dengan tetap menjaga rasio kredit bermasalah (NPL) yang berada pada level 1,4 persenpada akhir Juni 2019. NFL berada pada tingkat toleransi risiko yang masih dapat diterima. Rasio cadangan terhadap kredit bermasalah (loan loss coverage) tercatat memadai, sebesar 183,7 persen.
 
BCA mempertahankan posisi likuiditas dan permodalan yang sehat dengan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) sebesar 79,0 persen dan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 23,6 persen per 30 Juni 2019.
 
Di sisi dana pihak ketiga, BCA mencatat pertumbuhan dana giro dan tabungan (CASA) sebesar 5,9 persen yoy menjadi Rp510,4 triliun, didukung dengan kuatnya peningkatan jumlah transaksi khususnya pada echannels. CASA tetap menjadi inti dana pihak ketiga BCA dan berkontribusi sebesar 75,7 persen dari total dana pihak ketiga. Sementara itu, dana deposito meningkat 18,1 persen menjadi Rp163,5 triliun. Total dana pihak ketiga tercatat sebesar Rp673,9 triliun, tumbuh 8,6 persen.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif