Menteri Perindustrian Agus Gumiwang. FOTO: Kementerian Perindustrian
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang. FOTO: Kementerian Perindustrian

RI-Korsel Bersinergi Kembangkan Industri Kreatif

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekonomi indonesia indonesia-korsel
Antara • 04 Desember 2019 14:02
Jakarta: Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) berpeluang untuk menjalin kerja sama dalam upaya pengembangan industri kreatif, yang dinilai menjadi sebuah lompatan besar guna memacu pertumbuhan ekonomi kedua negara. Diharapkan kerja sama ini bisa memberi keuntungan bagi kedua belah pihak di kemudian hari.
 
"Kemenperin bertekad semakin meningkatkan jumlah wirausaha, terutama di sektor industri kreatif. Upaya ini merebut peluang adanya momentum bonus demografi dan membawa efek ganda bagi kontribusi positif terhadap perekonomian nasional," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 4 Desember 2019.
 
Pada 2018, industri kreatif mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang diperkirakan mencapai Rp1.000 triliun. Adapun tiga subsektor yang memberikan sumbangsih besar terhadap ekonomi kreatif tersebut, yakni industri kuliner sebesar 41,69 persen, disusul industri fesyen (18,15 persen), dan industri kriya (15,70 persen).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menperin menyampaikan Presiden Joko Widodo menilai ekonomi masa depan adalah industri kreatif dan digital. Hal itu dilontarkan Kepala Negara ketika menghadiri forum ASEAN-Republic of Korea (RoK) CEO Summit di Busan Exhibition and Convention Center (BEXCO), beberapa waktu lalu.
 
"Guna menumbuhkan industri kreatif yang kompetitif, tentunya perlu didukung dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten. Untuk itu, Bapak Presiden Joko Widodo mengingatkan pentingnya revitalisasi pendidikan melalui program link and match dengan dunia industri," kata Agus.
 
Agus mengungkapkan upaya konkret yang telah dilakukan Kemenperin untuk mendorong tumbuhnya wirausaha muda khususnya para pegiat industri kreatif, antara lain memfasilitasi dengan kegiatan pendidikan dan pelatihan (Diklat).
 
"Misalnya, sejak 2015, kami rutin menyelenggarakan Diklat animasi, programming, dan desain grafis di Bali Creative Industry Center (BCIC) yang dikelola oleh Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar," katanya.
 
Selain itu, Kemenperin membuat Inkubasi Bisnis (Inbis) TohpaTI untuk membina wirausaha yang ada dan menumbuhkan pelaku startup baru. Setiap tahun, Inbis TohpaTI bisa menghasilkan sekitar sembilan hingga sebelas tim startup di bidang animasi, desain, dan software developer.
 
"Bahkan, kami juga berupaya menumbuhkan wirausaha baru di kalangan pondok pesantren melalui program Santripreneur. Salah satu implementasi kegiatannya adalah meningkatkan kemampuan para santri agar siap memasuki era digital, sesuai perkembangan industri 4.0," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif