Pelita Samudera Shipping Beli Kapal Demi Ekspansi Armada - - Foto: Istimewa
Pelita Samudera Shipping Beli Kapal Demi Ekspansi Armada - - Foto: Istimewa

Pelita Samudera Shipping Bidik Pendapatan USD95 juta di 2020

Ekonomi pelayaran
Husen Miftahudin • 19 Februari 2020 20:36
Jakarta: PT Pelita Samudera Shipping Tbk (PSSI) membidik pendapatan sebanyak USD92 juta hingga USD95 juta pada 2020 atau naik sekitar 20-25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Target kenaikan pendapatan tersebut diupayakan melalui strategi pengoptimalisasian aset, diversifikasi bisnis, hingga ekspansi aset.
 
"Seperti 2019, kontrak sewa berjangka sebagai salah satu kunci pertumbuhan pendapatan, di samping pertumbuhan volume pengangkutan," kata Sekretaris Perusahaan PSSI Imelda Agustina Kiagoes dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, 19 Februari 2020.
 
Perusahaan, sambungnya, menargetkan volume pengangkutan dan pemindah muatan batu bara mencapai sebanyak 32 juta hingga 34 juta metrik ton. Angka itu naik sekitar 10-15 persen dibanding capaian 2019 yang hanya sebesar 30,2 juta metrik ton.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) di tahun ini dialokasikan sebesar USD30 juta. Pasokan dana ini ditargetkan untuk penambahan aset kapal tug and burges (TNB) serta perbaikan dan pemeliharaan kapal.
 
"Sebanyak empat unit MV (Motor Vessel/kapal kargo curah) yang dibeli di 2019 akan beroperasi penuh di 2020. Perseroan akan terus mengeksplorasi potensi pasar logistik baru termasuk non-batu bara," ungkap Imelda.
 
Sementara itu, Imelda menjelaskan tantangan fluktuasi harga komoditas batu bara di 2019 membuat total pendapatan tidak diaudit sebesar USD75,3 juta atau setara Rp1,1 triliun (kurs Rp14.600) per 31 Desember 2019. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 18 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar USD63,6 juta.
 
"Pertumbuhan dua digit ini didukung oleh kenaikan signifikan pendapatan sewa berjangka non-audit sebesar 304 persen menjadi USD9,9 juta dari USD2,4 juta di 2018 dengan pertumbuhan terbesar dari segmen kapal kargo curah," bebernya.
 
Serapan belanja modal (capex) di 2019 sebesar USD50 juta atau 81 persen dari anggaran capex. Sebagian besar untuk pembelian 4 unit MV, 1 unit kapal tunda, dan 2 unit tongkang ukuran 330 feet (TNB). Juga untuk biaya perbaikan dan pemeliharaan kapal
 
Pembelian MV kelas supramax dan handysize ditambah menjadi total enam unit MV dan TNB menjadi total 39 set. Penambahan armada ini ditujukan untuk mengejar peluang logistik pasar ekspor dan domestik. Total aset mengalami kenaikan sekitar 28 persen dibandingkan dengan 2018.
 
Imelda bilang, dua unit MV telah mendapatkan kontrak berjangka jangka panjang senilai USD39,4 juta. Salah satu pencapaian kontrak berjangka terbesar dalam lima tahun terakhir untuk pengangkutan bijih nikel dan batu bara.
 
"Satu unit MV terakhir yang dibeli di penghujung 2019 juga telah mendapatkan kontrak berjangka jangka panjang senilai USD6 juta untuk pengangkutan produk besi dan batu bara. Ekspansi armada MV sebagai salah satu target diversifikasi bisnis diluar pengangkutan komoditas batubara," ucap Imelda.
 
Pasca divestasi satu unit floating loading facility (FLF) Ratu Barito di September 2018 telah menaikkan utilisasi FLF di 2019. Penyewaan berjangka satu unit FLF di 2019 juga menjadi salah satu kontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan perseroan.
 
"Peraihan kontrak baru serta perpanjangan kontrak jangka panjang berhasil dicapai untuk FLF dan TNB. Sampai akhir 2019, komposisi kontrak jangka panjang untuk FLF mencapai 91 persen dan 9 persen spot basis dan segmen TNB mencapai 74 persen untuk kontrak jangka panjang dan 26 persen spot basis. Utilisasi kapal mencapai rata-rata 94 persen sampai akhir 2019," tutup dia.
 
(Des)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif