Mengedukasi Petani Meningkatkan Produktivitas Tanaman
Ilustrasi petani. (Foto: Antara/Hendra).
Jakarta: Executive Director CropLife Indonesia Agung Kurniawan mengatakan aplikasi pestisida yang tidak rasional merupakan salah satu kelemahan dalam produksi bawang merah di Indonesia.

"Selain mengakibatkan biaya produksi yang tinggi, keuntungan minim dan efek buruk bagi ekosistem, penggunaan pestisida yang tidak tepat guna akan mengakibatkan gangguan kesehatan petani," ujar Agung, dalam keterangan resminya, Senin, 30 April 2018.

Berangkat dari hal tersebut, petani pun diberi edukasi lapangan dalam bentuk expo agar lebih efektif dan menjaring banyak petani untuk lebih giat dalam meningkatkan produktivitas tanamannya.

Melalui program edukasi solusi cara banyak untung (Santun) yang digawangi oleh CropLife Indonesia dan Promoting Rural Income through Support for Markets in Agriculture (Prima), menggandeng sekitar 279 petugas penyuluh pertanian di 2017 dan 2.000 petani (langsung) serta 51 ribu petani (tidak langsung) yang akan mendapatkan akses dari pelatihan dan kegiatan yang dilaksanakan terutama petani komoditas bawang merah.

Adapun Karsa, sebuah platform aplikasi pertanian berbasis android juga menjadi salah satu yang ikut mempublikasikan dan menyebarkan informasi ke seluruh Indonesia. Santun sukses diselenggarakan di beberapa kota di antaranya Probolinggo, Nganjuk, Kediri, Bojonegoro, Bima, dan Lombok Timur dalam bentuk edukasi kepada Petugas Penyuluh Lapang (PPL) dan Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) dalam sesi Training of Trainers (TOT), edukasi dan temu petani dalam bentuk expo.

"Kampanye pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHPT) merupakan salah satu mekanisme dan pengendlian yang paling efektif. Yang mana suatu cara pendekatan atau cara berfikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan yang terlanjutkan," jelas Agung.

Selain itu, PHPT juga merupakan sistem pengendalian OPT yang merupakan bagian dari sistem pertanian berkelanjutan. Hal ini yang mendasari kegiatan yang dilaksanakan perseroan untuk membantu meningkatkan pengetahuan petani bawang di Indonesia.

"Kami sebagai asosiasi dari delapan perusahaan multinasional yang bergerak di bidang pestisida dan benih di Indonesia bertanggung jawab untuk memberikan edukasi termasuk tentang penggunaan pestisida yang tepat guna sehingga dapat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas tanaman (stewardship). Kampanye ini sekaligus juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran para petani dan toko tani akan bahayanya produk pestisida palsu," papar Agung.

Dia menjelaskan pentingnya pemahaman mengenai praktik pertanian yang baik (Good Agriculture Practice) dan praktik penggunaan pestisida yang baik dan aman (Good Pesticide Practice) menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan mewujudkan nawacita pemerintah dalam upaya mencapai swasembada dan ketahanan pangan nasional.

"Edukasi tentang pengendalian hama dan penyakit terpadu perlu menjadi prioritas bagi semua pengusaha bisnis pestisida karena bisnis pertanian tidak hanya pada keuntungan semata namun tetap memperhatikan kelestarian ekosistem, faktor kesehatan dan kesinambungan bisnis dengan para petani," tambahnya.

Edukasi mengenai manajemen penanggulangan hama dan penyakit tanaman, penggunaan produk pestisida, pemahaman lebel dan anti pemalsuan produk menjadi topik hangat yang dibawakan dalam kegiatan pelatihan ini. Selain itu, penjelasan mengenai pentingnya penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) bukan hanya pada saat menyemprot, tetapi juga pada saat melakukan aktivitas lain yang kontak dengan pestisida.

"Materi lain yang juga dibahas adalah mengenai lima aturan penggunaan produk perlindungan tanaman meliputi pemahaman label, kerjakan dengan hati-hati, merawat sprayer, menjaga kesehatan dan kebersihan diri dan kenakan alat pelindung sesuai anjuran," pungkasnya.



(AHL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360