BI Dorong Pengembangan Dua Sektor Halal
Ilustrasi Bank Indonesia (BI) MI/Usman Iskandar.
Jakarta: Dalam mendorong Indonesia sebagai negara berbasis ekonomi syariah, Bank Indonesia (BI) mendorong dua sektor industri halal untuk dikembangkan. Kedua sektor tersebut adalah makanan dan busana.

Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI Anwar Bashori mengatakan potensi kedua sektor tersebut saat ini terus menunjukkan peningkatan.

Berdasarkan data yang dipegang BI, secara global industri makanan halal pada 2016 memiliki nilai ekonomi sebesar USD1,2 triliun dan terus meningkat menjadi USD1,9 triliun pada 2022. Sementara potensi ekonomi dari busana muslim pada 2016 sebesar USD254 miliar dan berpeluang tumbuh hingga USD373 miliar pada 2022.

"Kalau dua sektor itu kita kembangkan dan tidak perlu impor, maka akan sangat membantu perekonomian nasional," kata Anwar di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin, 24 September 2018.

Anwar menjelaskan jika Indonesia fokus mengembangkan dua industri ini, Indonesia akan berpeluang menjadi basis produksi makanan dan busana halal dunia.

Namun demikian, Anwar tidak memungkiri pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia masih lambat. Lambatnya pertumbuhan tersebut karena kurangnya literasi masyarakat. Sebagian besar masyarakat hanya melihat ekonomi syariah sebatas perbankan syariah saja.

"Padahal banyak sektornya seperti wisata, kosmetik, farmasi, dan perhotelan," ungkap dia.

Selain itu, Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center Sapta Nirwandar menambahkan selain makanan dan busana, pengembangan industri halal Indonesia yang perlu dikembangkan adalah kosmetik. Ia menuturkan kualitas kosmetik halal Indonesia tidak kalah kualitasnya dengan merek-merek kosmetik kelas dunia.

"Wardah sudah nomor tiga di Malaysia level pengguna kosmetik. Nomir satu masih  (kosmetik) asal Prancis," pungkas Sapta.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id