2018, Dunia Usaha di Jateng Ditaksir Tumbuh 22,18%
Ilustrasi BI. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Semarang: Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia (BI) mengindikasikan kegiatan usaha di Jawa Tengah (Jateng) pada triwulan IV-2017 mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Kemudian pada triwulan I-2018, pelaku usaha memperkirakan bahwa kegiatan usaha masih akan mengalami pertumbuhan, namun tidak lebih tinggi dibandingkan triwulan IV-2017.

"Dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) diperkirakan kegiatan usaha triwulan I-2018 tercatat sebesar 22,18 persen," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Hamid Ponco Wibowo di Semarang, Rabu, 31 Januari 2018.


Hamid menjelaskan pada survei pencapaian kegiatan dunia usaha pada triwulan IV-2017 sudah naik secara signifikan.

"Kenaikan di tahun ini kemungkinan lebih rendah dari 2017. Nilai SBT kegiatan usaha pada triwulan IV-2017 mencatatkan nilai 30,36 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian pada triwulan III-2017 yang sebesar 14,77 persen," jelasnya.

Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa seluruh sektor ekonomi di Jateng tumbuh pada triwulanan. Namun, tidak seluruh sektor ekonomi mengalami percepatan pertumbuhan kegiatan usaha.

Hal tersebut tercermin dari nilai SBT kegiatan usaha yang menurun pada beberapa sektor ekonomi, walaupun masih bernilai positif. Peningkatan SBT paling signifikan terjadi pada sektor jasa-jasa.

"Sektor utama perekonomian Jawa Tengah yang mengalami percepatan kegiatan usaha, yaitu sektor perdagangan, hotel, dan restoran; dan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan," ucapnya.

Sejalan dengan peningkatan kegiatan usaha, kapasitas produksi terpakai juga meningkat. Berdasarkan hasil survei, rata-rata kapasitas produksi terpakai pada triwulan IV-2017 tercatat sebesar 79,44 persen atau lebih tinggi dibandingkan 78,17 persen pada triwulan sebelumnya.

Lebih lanjut, perbaikan kegiatan usaha juga berdampak pada penggunaan tenaga kerja.  Perkembangan tersebut tercermin dari SBT penggunaan tenaga kerja triwulan IV-2017 yang terpantau negatif, yaitu sebesar -6,56 persen, lebih tinggi dari SBT pada triwulan III-2017 yang sebesar -9,76 persen.

"Penggunaan tenaga kerja diperkirakan tetap menurun pada 2018 karena pelaku usaha saat ini terus melakukan efisiensi produksi," pungkasnya.

 



(AHL)