Ilustrasi. (FOTO: MI/Usman Iskandar)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Usman Iskandar)

Perang Bunga Deposito Dianggap masih Wajar

Ekonomi bank indonesia suku bunga
21 Januari 2019 07:48
Jakarta: Bank Indonesia (BI) berpandangan penaikan tingkat suku bunga deposito perbankan wajar sebagai imbas dari penaikan suku bunga kebijakan BI rate 7-day reverse repo rate.
 
"Wajar karena memang pendanaan perbankan berupa ritel (dana pihak ketiga). Oleh karena itu, kalau suku bunga pasar uang naik, retail funding bank harus naik," Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, akhir pekan kemarin.
 
Dia menekankan penaikan suku bunga acuan tidak terlalu mengakibatkan pengetatan likuiditas. Pasalnya kondisinya berbeda dengan tahun lalu yang terjadi pengurangan likuiditas karena aliran modal asing keluar dari Indonesia meski BI sudah melonggarkan likuiditas. Menurut dia, tahun lalu pendanaan bank berkurang tidak hanya dari dana pihak ketiga (DPK), tetapi juga dari dana luar negeri. Tahun ini aliran modal asing mulai masuk kembali.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski begitu, kenaikan suku bunga deposito perbankan tidak serta-merta langsung diikuti kenaikan bunga kredit yang ekspansif. Sebaiknya bank lebih banyak meningkatkan efisensi, serta mengurangi spread atau selisih suku bunga deposito dan kredit.
 
Tingkat suku bunga kredit korporasi sendiri rata-rata masih berada di bawah 10 persen. Tingkat bunga kredit untuk konsumsi 11 persen, untuk modal kerja 10 persen, dan di bawah 10 persen untuk investasi.
 
"BI bersama OJK terus berkoordinasi dan memastikan likuiditas cukup di pasar uang dan perbankan. Caranya lewat ekspansi operasi moneter lalu terbitkan beberapa kebijakan untuk menambah manajemen maupun likuditas bank," pungkas Perry.
 
Direktur Keuangan BTN Iman Nugroho Soeko juga menilai tingginya suku bunga deposito saat ini masih dalam batas wajar. Tingginya suku bunga deposito itu, kata dia, merespons suku bunga acuan BI yang naik 175 basis poin sepanjang 2018. "Yang tidak wajar itu pada Desember tahun lalu (2018). Tapi ini pun karena siklusnya selalu begitu. Hampir semua bank besar ataupun kecil biasanya ingin memoles balance sheet-nya agar sesuai perencanaan," terangnya.
 
Namun, saat ditanyakan rencana BTN menaikkan suku bunga kredit seiring dengan tingginya suku bunga deposito, dia mengatakan itu tergantung keputusan dari rapat asset liability committee mengenai pencapaian net interest margin (NIM). "Kalau sudah terindikasi NIM tergerus dibanding target, saat itu kami akan sesuaikan bunga kredit," terangnya.
 
Efisiensi
 
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menyampaikan para pengusaha telah mengantisipasi kondisi tersebut.
 
"Kalau pengusaha perspektifnya lengkap, jangka pendek, menengah, dan panjang. Mereka mengantisipasi ini (era suku bunga tinggi)," katanya saat dihubungi Media Indonesia, Sabtu, 19 Januari 2019.
 
Menurut dia, modal kerja merupakan yang terdampak dari tingginya suku bunga. Karena itulah, pengusaha sebaiknya melakukan efisiensi dalam kondisi sekarang ini. "Kalau sudah seperti ini, mereka akan mengurangi pinjamannya kalau bunga tinggi," ucapnya.
 
Selain itu, harga jual barang pun mungkin akan turut naik. Hanya saja, kenaikan harga tersebut tidak akan signifikan.
 
Terlepas dari itu, Haryadi pun menilai tingginya suku bunga deposito saat ini masih wajar. Kondisi saat ini masih terkelola dengan baik. "Sekarang masih sangat bisa terkelola. Apalagi, sistem perbankan kita jauh lebih baik," pungkasnya. (Media Indonesia)
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif