Kuartal III-2018

Penyaluran Kredit Bank Mandiri Naik jadi Rp781 Triliun

Annisa ayu artanti 19 Oktober 2018 12:04 WIB
bank mandiri
Penyaluran Kredit Bank Mandiri Naik jadi Rp781 Triliun
Ilustrasi Bank Mandiri. (FOTO: MI/Angga Yuniar)
Jakarta: PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat kenaikan penyaluran kredit sebesar 13,8 persen menjadi Rp781,1 triliun hingga kuartal III atau September 2018.

Kenaikan ini mendorong penghimpunan aset menjadi Rp1.173,6 triliun atau tumbuh 8,8 persen dibandingkan September 2017.

"Laju pertumbuhan kredit tersebut berdampak pada laba bersih perseroan pada Januari-September 2018," ujar Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman Arif Arianto, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat, 19 Oktober 2018.

Menurut dia pertumbuhan kredit ini merupakan yang tertinggi dalam 18 bulan terakhir. Capaian kredit ini terutama disumbangkan oleh segmen korporasi besar sebesar 27,6 persen dan pertumbuhan kredit segmen mikro  sebesar 27,1 persen menjadi Rp301,4 triliun dan Rp97,5 triliun.

Perseroan mencatat laba pada kuartal III-2018 mencapai Rp18,7 triliun. Mengutip laporan keuangan yang dipublikasikan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), laba yang dibukukan pada kuartal III-2018 ini meningkat 16,6 persen dari laba yang dibukukan periode yang sama September 2017 sebesar Rp15,6 triliun.

Capaian laba itu ditopang dari peningkatan pendapatan bunga dan syariah yang tercatat mengalami kenaikan 0,41 persen dari Rp59,3 triliun di September 2017 menjadi Rp59,5 triliun. Lalu, penurunan beban bunga dan syariah sebesar 7,2 persen dari Rp20,4 triliun menjadi Rp19,1 triliun.

Kemudian, peningkatan pendapatan dari premi sebesar 0,4 persen dari Rp38,8 triliun menjadi Rp40,4 triliun. Serta beban klaim naik dari Rp7,7 triliun menjadi Rp7,8 triliun.

Perbankan pelat merah ini juga mencatat net interest income naik 4,2 persen menjadi Rp40,5 triliun dan fee based income sebesar sebesar 11,4 persen menjadi Rp18,75 triliun. Serta, penurunan rasio NPL Gross 74 bps menjadi 3,01 persen pada akhir September 2018.

Persaingan Ketat

Sulaiman menambahkan persaingan yang semakin ketat serta kebijakan suku bunga yang diterapkan regulator menuntut perseroan melakukan perbaikan yang signifikan baik dari sisi pengelolaan aset produktif serta penajaman fokus bisnis.

"Penurunan rasio NPL terutama didorong oleh keberhasilan perseroan dalam melakukan restrukturisasi secara berkelanjutan, di samping pemantauan potensi bisnis debitur secara ketat sehingga dapat membantu debitur memenuhi kewajibannya," tambah dia.

Di sisi lain, biaya operasional berhasil terus ditekan dan hanya tumbuh single digit berkat penerapan prinsip efisiensi secara konsisten di seluruh proses bisnis.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id