Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Pengusaha Ritel Mesti Punya Strategi Kreatif

Ekonomi ritel daya beli masyarakat
17 Januari 2019 10:46
Jakarta: Tutupnya sejumlah gerai/toko ritel belakangan ini bukan disebabkan melemahnya daya beli masyarakat.
 
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani berpendapat hal itu lebih disebabkan ketidakmampuan perusahaan bersaing dengan toko daring. Selain itu, saat ini ada shifting (perubahan) pengalaman konsumen atau costumer experience ke ritel-ritel online.
 
"Market-nya sebenarnya tidak turun, tetapi masalahnya adalah customer experience-nya sudah mulai berubah," ujarnya dalam suatu diskusi di Jakarta, Rabu, 16 Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Aviliani, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5,2 persen saat ini sudah bagus. Melalui angka itu, dia melihat ada beberapa sektor yang akan berkembang pesat, termasuk sektor ritel. Hal itu mengingat 70 persen penduduk Indonesia merupakan penduduk berusia produktif sehingga diyakini dapat mendukung pertumbuhan industri di sektor tersebut.
 
"Kalau ada sektor ritel mati, berarti mereka yang tidak bisa survive mengatasi pasar. Sektornya bagus belum tentu pelakunya juga ikut bagus. Sangat tergantung pada bagaimana strategi, sektor mikronya yang harus diberesin oleh perusahaan," jelasnya.
 
CEO Sogo Department Store Handaka Santosa mengatakan perlu adanya diferensiasi di setiap perusahaan ritel. Menurut dia, perusahan perlu ekspansi dengan menggabungkan antara penjualan secara luring dan daring. Dia mencontohkan apa yang dilakukan perusahaannya, yang antara lain menyasar wisatawan.
 
"Supaya kami bisa menjadi tujuan wisata, kami buat toko yang nyaman. Barang semua harus ada. Semua barang yang dibutuhkan oleh customer harus ada. Jadi, tidak perlu mencari ke luar negeri," ujar Handaka.
 
Secara terpisah, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) berharap para calon presiden dan wakil presiden yang bertarung pada pemilu kali ini bisa menyiasati gejolak ekonomi global agar tidak terlalu berdampak ke dalam negeri.
 
"Siapa pun nanti pemimpin terpilih, ini harus menjadi catatan, ekonomi global di depan mata tidak terlalu menggembirakan. Kedua pasangan calon wajib memiliki gagasan matang yang siap diimplementasikan dalam waktu dekat," ujar Wakil Ketua Aprindo Tutum Rahanta, kemarin. (Media Indonesia)
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi