Maskapai Sriwijaya Air. Dok:MI.
Maskapai Sriwijaya Air. Dok:MI.

Sriwijaya Air Dianggap Membohongi Konsumen

Ekonomi pariwisata indonesia sriwijaya air
Annisa ayu artanti • 14 Januari 2019 20:20
Jakarta: Maskapai Sriwijaya Air dianggap berbisnis dengan tidak jujur dan tidak beretika karena telah membohongi pemegang SJ Travel Pass. Program SJ Travel Pass menjanjikan konsumen bisa terbang ke destinasi mana pun dan kapan pun. Namun saat ini konsumen malah dipersulit.

Alih-alih mendapatkan banyak benefit, pelanggan pemegang promo SJ Travel Pass justru dibuat kelabakan dengan tidak bisa terbang sesuai promo dan memikul kerugian. 

Salah satu traveler yang membeberkan kebobrokan Sriwijaya Air dalam mengelola promo SJ Travel Pass tersebut adalah Maya Suyekti. Ia mengaku, sebelumnya dia memang tergiur dengan promo bayar Rp12 juta terbang ke mana pun dan kapan pun selama satu tahun. 
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Namun setelah delapan kali terbang, penerbangan-demi-penerbangan pun dipersulit. Peraturan yang pertama kali diubah oleh pihak Sriwijaya Air adalah kewajiban check in di bandara. Padahal sebelumnya bisa melakukan check in melalui website. "Ini menyulitkan kita. Tapi hanya dengan waktu seminggu fasilitas ini dikembalikan," kata Maya di kawasan Cikini, Jakarta, Senin, 14 Januari 2019.

Setelah itu pada Oktober 2018 lalu, maskapai yang dibentuk oleh keluarga Lie (Hendry Lie dan Chandra Lie) dengan Johannes Bundjamin dan Andy Halim kembali mengubah aturan main untuk pelanggan pemegang SJ Travel Pass. 

Maya menyebutkan, pada 10 Oktober 2018 dia mendapat surat elektronik (surel) dari pihak Sriwijaya Air. Di dalam surel tersebut menyatakan adanya penyesuaian alokasi kursi pada setiap penerbangan. Pertama, untuk penerbangan dengan pesawat Boeing 737-800 atau Boeing 737-900 alokasi 75 kursi.

Lalu, kedua untuk penerbangan dengan pesawat Boeing 737-300 atau Boeing 737-500 alokasi 35 seat dan untuk penerbangan dengan tipe pesawat ATR 72-600 alokasi hanya 15 kursi. Sriwijaya Air berdalih pemberlakuan aturan tersebut lantaran kondisi makro bisnis penerbangan sedang kurang berpihak kepada semua perusahaan penerbangan.

"Di Oktober kita terima email batasan seat. Pembatasan seat ini kita berusaha mengerti karena kerugian jadi harus dibatasi," jelas dia.

Mulai saat itu pemegang SJ Travel Pass mulai kesulitan mendapatkan tiket pesawat. Tiket selalu ludes terjual. Maya mengatakan, hal tersebut terasa janggal karena semua tiket berbagai rute penerbangan benar-benar habis terjual. Bahkan kondisi yang sama saat bukan eranya peak season dan destinasi yang dituju merupakan destinasi yang tidak banyak pengunjung.

"Desember makin sulit mendapatkan tiket. Sold out semua, untuk next month juga tidak bisa beli. Sampai Juni tidak bisa dibeli," ungkap dia.

Kejanggalan tersebut semakin menjadi ketika salah satu anggota pemegang SJ Travel Pass memesan tiket ke suatu tujuan, diaplikasi dinyatakan penuh tetapi realita di pesawat kosong. Maya juga pernah mencoba memesan tiket dengan tidak mencantumkan pelanggan SJ Travel Pass, terbukti tiket dan kursi pesawat masih tersedia.

Terakhir pada 11 Januari lalu, lanjut Maya, pelanggan SJ Travel Pass diberikan tiket A pada setiap rute penerbangan yang dipilih. Tiket A adalah aturan baru yang diterapkan Sriwijaya Air bagi pelanggan pemegang SJ Travel Pass. Tiket tersebut baru bisa digunakan ketika ada kursi kosong di pesawat. Itu pun calon penumpang tidak diberikan boarding pass seperti penerbangan umumnya.

"Kita disuruh tunggu, karena dianggap belum penumpang karena tiketnya masih standby, padahal kode booking sudah ada, kita tinggal terima boarding pass aja tidak diberikan," ucap dia.

Mengenai perihal itu, para pelanggan pemegang SJ Travel Pass sudah berkali-kali menemui pihak Sriwijaya Air. Namun selalu dilempar ke customer service dan tidak menyelesaikan masalah. 

Maya dan teman-teman juga telah melayangkan surat ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tapi setali tiga uang belum ada respon dari YLKI. Maya merasa kapok membeli promo Sriwijaya Air ini. Ia dan teman-temannya berencana menempuh jalur hukum jika tidak ada itikad baik dari Sriwijaya dan mengembalikan aturan main dari promo SJ Travel Pass seperti sebelumnya.

"Iya tapi lagi dipelajari dulu hukumnya, tentang pasalnya. Undang-undang menyimpang tidak sesuai perjanjian jadi bisa diperkarakan, dipermasalahkan," sebut dia.


(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi