Illustrasi. Dok : AFP.
Illustrasi. Dok : AFP.

Masyarakat Dirugikan dengan Permainan Harga Maskapai

Ekonomi bisnis maskapai
Ilham wibowo • 23 Januari 2019 17:57
Jakarta: Besaran tarif penerbangan dinilai mesti disesuaikan dengan pelayanan yang diberikan. Masyarakat pun bisa memilih kelas pelayanan sesuai dengan kapasitas kemampuan keuanganya.
 
Pengamat Transportasi dari Universitas Indonesia (UI) Tri Cahyono mengatakan pilihan pengguna transportasi udara tersebut bervariasi dari pelayanan standar minimum hingga maksimum. Tentu saja, kata dia, standar operasional dan keselamatan tak bisa ditawar-tawar berapapun harga tiket yang ditawarkan.
 
"Kalau harga tiket lebih mahal kan ada pelayanan yang diberikan seperti bisa mengubah-ubah jadwal lalu bisa dapat penerbangan untuk melakukan penebangan mendadak," ujar Tri kepada Medcom.id, Rabu, 23 Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kondisi mahalnya tarif tiket pesawat kini dirasakan berbeda lantaran banyak penggunanya yang terus mengeluh. Bahkan hampir semua kelas penerbangan dianggap mengalami lonjakan yang signifikan dalam waktu yang bersamaan.
 
Menurut Tri, masyarakat kemudian tak diuntungkan dengan situasi itu lantaran mau tidak mau hanya bisa melihat kondisi pasar yang ada. Persaingan harga juga menjadi kurang kompetitif lantaran sebagian besar rute penerbangan domestik hanya dijalankan dua maskapai besar yakni Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group.
 
"Kalau semua mahal jadi tidak masuk akal, jangan-jangan mereka kartel dan itu bahaya. Ini bisa jadi lantaran pilihan terbang tidak banyak, sekarang hanya ada dua maskapai besar Lion Air Group dan Garuda Indonesia," ungkapnya.
 
Minimnya pilihan maskapai juga dinilai memperkecil hadirnya strategi peningkatan bisnis yang disukai masyarakat seperti tawaran diskon tiket dengan syarat tertentu. Terlebih, inovasi bisnis juga punya cara yang beragam untuk diaplikasikan dengan tetap patuh pada regulasi.
 
"Tidak boleh terjadi kartel dengan melakukan tindakan penyamaan tarif. Pesawat terbang juga bisa ada tiket yang gratis tapi kompensasinya ada juga kursi yang lebih mahal," paparnya.
 
Lebih lanjut, ia meyakini pemerintah punya kebijkan untuk berpihak kepada masyarakat dan tetap mendorong pertumbuhan bisnis penerbangan. Kehadiran Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam meneliti fenomena ini juga diharapakan membuahkan hasil yang baik.
 
"Transparansi kan ada regulator dan kita punya KPPU, biarkan mereka bekerja dan kita lihat benar atau tidak ada kartel," pungkasnya.
 


 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi