Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. (Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo)
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. (Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo)

Tahun Politik Tak Boleh Halangi Perundingan RCEP

Ekonomi kementerian perdagangan
Ilham wibowo • 03 Maret 2019 07:32
Siem Reap: Menteri Perdagangan dari 16 Negara peserta perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) kembali melakukan pertemuan intersesi di Siem Reap, Kamboja. Arahan kepala negara pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) RCEP ke-2 yang berlangsung di Singapura pada bulan November 2018 lalu bakal ditindaklanjuti.
 
Pertemuan ini dinilai sangat tepat dan penting untuk meneguhkan komitmen seluruh negara peserta RCEP menyelesaikan seluruh isu-isu perundingan, baik isu yang bersifat teknis kebijakan maupun politis. Pertemuan pun diharapkan dapat memberikan arahan konkrit mengingat situasi tahun politik (Pemilu) di sejumlah negara peserta RCEP yaitu Indonesia, Thailand, India, dan Australia.
 
"Bahkan bagi negara yang tidak sedang dalam tahun politik diharapkan dapat menyelesaikan perundingan berbagai isu politis dan sensitif agar perundingan dapat dituntaskan di akhir tahun,” ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang juga selaku Koordinator Negara RCEP melalui keterangan resmi, Sabtu, 2 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain mematangkan rencana kerja dan program kerja RCEP 2019, Menteri RCEP juga membahas perkembangan perundingan akses pasar, teks perjanjian, serta memberikan panduan. Rambu- rambu bagi para negosiator untuk menyelesaikan perundingan juga dilibatkan.
 
Menurut Mendag, pertemuan Intersesi ini merupakan salah satu komitmen para Menteri RCEP dalam mengintensifkan penyelesaian perundingan tahun 2019. Pertemuan perlu menghasilkan keputusan yang saling menguntungkan.
 
“Para Menteri RCEP juga berkomitmen untuk turut membahas penyelesaian berbagai isu yang masih terkendala penyelesaiannya hingga saat ini, baik untuk isu yang bersifat kebijakan dan politis dan bahkan untuk isu yang bersifat teknis, apabila keputusan Menteri terhadap aspek teknis tersebut diperlukan,” tegas Mendag.
 
Para Menteri RCEP sepakat untuk melakukan pertemuan intersesi setiap 1-2 putaran perundingan. Pertemuan Intersesi Menteri RCEP selanjutnya akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2019 setelah Putaran Perundingan RCEP ke-27, di Beijing, China.
 
Perundingan RCEP melibatkan 10 Negara anggota ASEAN dan 6 (enam) Negara Mitra yang telah memiliki perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan ASEAN yaitu Australia, India, Jepang, Korea, China, dan Selandia Baru. Perundingan Mega FTA yang dipimpin oleh Indonesia ini telah berlangsung selama enam tahun dan 2019 merupakan tahun final penyelesaian perundingan.
 
Kesepakatan RCEP akan menjadi pakta perdagangan regional terbesar di dunia yang mencakup lebih dari 48 persen penduduk dunia, 38 persen produk domestik bruto (GDP) dunia, dan sekitar 42 persen perdagangan dunia.
 
Lebih lanjuta, di sela-sela pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN, Menteri Ekonomi Jepang, dan Sekretaris Jenderal ASEAN menghadiri upacara penyerahan dokumen Protocol to Amend the ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP) Agreement kepada Sekretariat ASEAN. Dokumen ini ditandatangani oleh Menteri Ekonomi Jepang di Tokyo pada 27 Februari 2019 dan Menteri Ekonomi ASEAN pada 1 Maret 2019 di Seam Reap, Kamboja.
Seluruh Pihak berharap dapat segera mengimplementasikan perjanjian ini, mengingat penyelesaian perundingan yang memakan waktu sekitar tujuh tahun. Implementasi perjanjian ini diharapkan dapat lebih meningkatkan kinerja perdagangan dan arus investasi di kawasan ASEAN dan Jepang.
 
Selain menghadiri pertemuan Intersesi Menteri RCEP, Mendag juga melakukan pertemuan bilateral dengan Filipina dan Jepang. Pertemuan ini untuk membahas isu yang menjadi perhatian bersama dalam upaya meningkatkan kinerja perdagangan dan investasi masing-masing pihak.
 

(BOW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif