Kelapa Sawit. MI/Panca Syaukarni.
Kelapa Sawit. MI/Panca Syaukarni.

Tanaman Sawit Produk Eropa yang Dinasionalisasi

Ekonomi cpo
Desi Angriani • 20 Maret 2019 19:55
Jakarta: Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution tak terima dengan pelarangan ekspor kelapa sawit oleh Uni Eropa. Sebab, salah satu subsektor komoditas perkebunan ini justru dibawa oleh orang Eropa pada masa kolonial Belanda.
 
Tanaman ini kemudian mulai berkembang menjadi komoditas skala komersial oleh orang Beliga Adrien Hallet di Deli, Pantai Timur Sumatera dan Aceh.
 
"Kita kenal tanaman ini juga karena mereka. Ini bukan tanaman kita tapi tanaman itu sangat cocok untuk Indonesia," ujar Darmin dalam acara briefing diskriminasi Uni Eropa terhadap kelapa sawit di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu 20 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Darmin mengungkapkan puncaknya geliat industri minyak sawit terjadi pada masa orde baru. Saat itu pemerintahan Soeharto membuka keran izin peraturan perundangan bagi liberalisasi ekonomi.
 
Izin tersebut kemudian membuat perkebunan sawit yang dimiliki negara melalui PT Perkebunan Nusantara mulai bersinar pada 1970-an. Sedangkan perkebunan petani kecil berkembang setelah 1979 berkat dukungan dana dari Bank Dunia.
 
"Sawit di Indonesia dikembangkan besar-besaran di permulaan Orde Baru, dari bank dunia kreditnya. Kemudian dibagikan namanya KLBI," ungkapnya.
 
Karena itu, Darmin menilai embargo minyak sawit dengan alasan proses deforestasi tidak masuk akal. Merujuk studi yang dilakukan satuan tugas kelapa sawit International Union for Conservation of Nature (IUCN), kelapa sawit hanya memerlukan 0,26 hektare lahan untuk memproduksi satu ton minyak nabati.
 
Sementara satu ton minyak nabati ini memerlukan tanah seluas 1,43 hektare lahan minyak bunga matahari, bahkan minyak kacang kedelai memerlukan dua hektare lebih. Jadi, diperlukan lahan 8-9 kali lipat lebih luas untuk tanaman lainnya menghasilkan satu ton minyak nabati.
 
"Sudah kita lakukan upaya menunjukkan data, peta 1900, 1950, 1980, 2000, 2010. Nanti dulu jangan dibilang kita menebang hutan untuk tanam kelapa sawit," pungkas dia.
 
Adapun kelapa sawit merupakan salah satu komoditi unggulan yang berperan penting dalam roda perekonomian nasional. Ekspor CPO mencapai USD17,89 miliar pada 2018 dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 3,5 persen.
 
Industri sawit juga menyerap sedikitnya 19,5 juta pekerja, termasuk empat juta petani kecil. Disamping itu, minyak sawit juga masuk dalam strategi penting dalam menggantikan ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.
 
Ekspor minyak sawit (CPO) Indonesia antara lain ke Belanda, India, Tiongkok, Malaysia, dan Jerman. Sedangkan untuk produk minyak inti sawit (PKO) lebih banyak diekspor ke Belanda, Amerika Serikat dan Brasil.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif