Direktur Utama Dahana Budi Antono. Foto : Medcom/Annisa Ayu.
Direktur Utama Dahana Budi Antono. Foto : Medcom/Annisa Ayu.

Tekan Defisit Perdagangan, Dahana Siap Ekspor

Ekonomi bumn
Annisa ayu artanti • 12 November 2019 15:30
Jakarta: PT Dahana (Persero) terus memperluas jangkauan ekspor bahan peledak ke beberapa negara. Perluasan ekspor dilakukan sebagai upaya menekan defisit neraca perdagangan sesuai arahan dari pemerintah.
 
Direktur Utama Dahana Budi Antono mengatakan ekspor terakhir yang dilakukan Dahana adalah ke Australia dan Timur Leste dengan masing-masing nilai ekspor Rp7,02 miliar dan Rp2,57 miliar.
 
"Kita ekspor ke Australia dan Timor Leste terakhir," kata Budi di Synergi Lounge Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa, 12 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara rencana ekspor tahun depan, Budi menyebutkan Dahana akan mengekspor ammonium nitrat dan dayagel extra ke Jepang, Australia, dan Timor Leste. Total nilai ekspor tersebut sekitar Rp29,64 miliar.
 
"Ini rencana ekspor, kita sudah tau mereka sudah kontrak dengan Dahana. 2020 Timor Leste, Australia dan Jepang," sebut dia.
 
Lalu pada 2021, Dahana juga berencana melakukan ekspor ke Australia, Timor Leste dan Thailand. Total ekspor 2021 ditaksir mencapai Rp16,58 miliar. Selama lima tahun kedepan negara-negara yang menjadi langganan tujuan ekspor bahan peledak dari Dahana adalah Australia, Timur Leste, dan Jepang.
 
"Kita juga pernah ekspor ke Timur Tengah," sebut dia.
 
Lebih lanjut, Budi menjelaskan penggenjotan kinerja ekspor bahan peledak ini dilakukan atas dasar arahan dari pemerintah untuk menekan defisit neraca perdagangan. Ekspor bahan peledak ini akan membuat Indonesia meraih devisa.
 
"Kenapa ekspor karena untuk devisa dan enggak defisit perdagangan dengan negara lain. Jadi kita bisa meraih devisa," ujar dia.
 
Di sisi lain mengenai kinerja keuangan hingga akhir tahun, Budi menjelaskan akan terjadi penurunan pendapatan sekitar Rp100 miliar. Dari sebesar Rp1,9 miliar tahun lalu menjadi Rp1,8 miliar. Penurunan pendapatan ini terjadi karena persaingan yang ketat.
 
Kemudian laba hingga akhir tahun juga diproyeksikan akan menurun dari Rp133 miliar pada tahun lalu menjadi sekitar Rp100 miliar.
 
"Kinerja akhir tahun, karena persaingan yang sangat ketat, revenue sama kayak tahun kemarin tapi profit agak turun dikit," tukas dia.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif