Proposition Manager at Islamic Finance Team Revinitiv Thomson Reuters Shaima Hassan (tengah)dan Direktur Eksekutif KNKS Ventje Rahardjo (kiri). Foto : Medcom/Ilham Wibowo.
Proposition Manager at Islamic Finance Team Revinitiv Thomson Reuters Shaima Hassan (tengah)dan Direktur Eksekutif KNKS Ventje Rahardjo (kiri). Foto : Medcom/Ilham Wibowo.

Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia Menuju Puncak

Ekonomi ekonomi syariah
Ilham wibowo • 12 November 2019 17:11
Jakarta: Ekonomi dan keuangan syariah dapat menjadi alternatif cara untuk mencapai cita-cita negara yaitu memajukan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar memiliki potensi terdepan dalam pengembangannya. Ekonomi dan keuangan syariah pun dinilai bisa menjadi motor penggerak ekonomi nasional bahkan dunia.
 
Implementasi konsep ekonomi dan keuangan syariah dipandang penting sebagai mesin baru dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi negara dengan mayoritas Muslim. Pengetahuan tentang ekonomi berbasis Islam terus diperkuat dengan beragam riset dan pendidikan.
 
Peringkat Islamic Finance Development Indicators (IFDI) Indonesia tercatat telah tumbuh pesat dari posisi kesepuluh pada 2018 menjadi posisi keempat pada tahun ini. Laporan pengembangan keuangan Islam di Indonesia itu disampaikan dalam Economic Syariah Festival 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Catatan laporan tersebut merupakan kajian The Islamic Corporation for the Development of the Private Sector (ICD) bersama Islamic Development Bank (IDB). Selain itu penyedia informasi intelijen dan bisnis terkemuka di dunia, Refinitiv, juga ikut terlibat.
 
Proposition Manager at Islamic Finance Team Revinitiv Thomson Reuters Shaima Hassan mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan tercepat dengan peningkatan skor IFDI sebesar 37 persen. Capaian tersebut didorong oleh kinerja yang lebih kuat dalam pengelolaan ekonomi dan keuangan syariah terutama riset dan pendidikan serta dari kebijkan pemerintah dan kesadaran masyarakatnya.
 
"Indonesia naik enam peringkat dalam satu tahun dan ini lompatan yang baik," kata Shaima ditemui dalam forum Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019 di Jakarta Convention center (JCC) Senayan, Jakarta, Selasa, 12 November 2019.
 
Menurut laporan tersebut, aset industri keuangan syariah tumbuh menjadi USD2,5 triliun pada 2018 dari USD2,4 triliun pada 2017 atau naik tiga persen. Negara-negara maju peringkat teratas dalam industri keuangan syariah yakni Malaysia, Bahrain, UAE dan Indonesia. Adapun aset keuangan syariah Indonesia sendiri yakni berjumlah USD86 miliar pada 2018 atau naik lima persen dari USD82 miliar pada 2017.
 
Shaima menyampaikan terobosan yang dibuat Pemerintah Indonesia lewat beragam regulasi sangat mendukung pengembangan ekonomi syariah. Penguatan telah dilakukan mulai dari sertifikasi halal hingga mandatori untuk spin off dari unit-unit syariah perbankan.
 
"Indonesia masih memiliki ruang untuk menumbuhkan keuangan syariah yang saat ini masih berada di kisaran lima persen," paparnya.
 
Indonesia juga telah membentuk Masterplan Ekonomi Syariah 2019-2024 yang dibentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Beragam pengembangan mencakup kerangka kerja pengembangan strategi dan rencana aksi untuk membantu industri memainkan peran yang lebih besar dalam perekonomian negara.
 
Salah satu fokus khusus dari strategi yang dilakukan yakni pendidikan keuangan Islam lantaran Indonesia dsudah memimpin dunia. Lebih jauh, KNKS juga telah bermitra dengan platform pembayaran QR code terpusat yang dimiliki oleh empat unit negara Islam. Selain itu bank yang dimiliki untuk mengembangkan platform digital untuk mendistribusikan dana keuangan sosial dari pembayaran zakat dan wakaf.
 
"Indonesia juga menyaksikan diluncurkannya crowdfunding wakaf berbasis blockchain pertama di dunia," tuturnya.
 
Direktur Eksekutif KNKS Ventje Rahardjo menuturkan melesatnya peringkat IFDI tersebut merupakan apresiasi dari pihak global terhadap kerja keras pemerintah bersama seluruh pelaku industri terkait dalam mengembangkan ekonomi syariah. KNKS tengah merencanakan pembentukan bank investasi syariah dalam rangka memperluas ekosistem keuangan syariah akan mulai terealisasi pada 2020.
 
“Bank investasi syariah sedang dikerjakan, tahun depan sudah mulai punya dan bergerak, kita inginnya cepat,” ungkapnya.
 
Bank investasi syariah diperlukan agar dapat membiayai proyek dengan struktur pembiayaan yang nilainya besar seperti proyek pembangunan infrastruktur. Saat ini, baik bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) sudah banyak yang melirik melalui skema sindikasi untuk proyek jalan tol dan pembelian sukuk yang diterbitkan oleh pemerintah.
 
"Sudah ada pembiayaan melalui sindikasi, tetapi bentuk bank investasi ini akan membuat pembiayaan proyek-proyek strategis tersebut lebih kuat," ungkapnya.
 
Indonesia memiliki potensi ekonomi syariah yang sangat menjanjikan, terutama dalam rangka mengembangkan enam sektor unggulan industri halal di Tanah Air, seperti industri makanan halal, pariwisata halal, fesyen Muslim, industri kreatif, pertanian terintegrasi dan juga renewable energy.
 
Apalagi Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, atau sekitar 207 juta orang dari 87,2 persen total penduduk Indonesia. Posisi Indonesia yang masih sesebagai konsumen utama produk makanan, busana, maupun pariwisata halal dunia perlu terus berubah menjadi produsen.
 
Manfaat Besar Perlu Disadari
 
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan kehadiran Komite Nasional tentang Keuangan Syariah (KNKS) sangat penting sebagai mitra kunci dalam berkolaborasi dengan BI dan lembaga lainnya untuk mengimplementasikan rencana induk ekonomi dan keuangan syariah nasional Indonesia. Tantangan besar dalam mengimplementasikan konsep syariah pun perlu dipecahkan dengan pengalaman dari berbagai negara mayoritas muslim lainnya dalam sebuah pertemuan internasional.
 
Ekonomi dan keuangan Islam dunia dinilai perlu terus disadari bisa bermanfaat besar terutama dalam ketidakpastian ekonomi global berkepanjangan. Pada tahun-tahun mendatang penurunan potensi pertumbuhan ekonomi tetap sebagai fitur utama dari keadaan ekonomi global.
 
Saat ini dunia mencari keseimbangan dan stabilitas baru ketika langkahnya pertumbuhan ekonomi global lebih rendah untuk waktu yang lebih lama dan berkelanjutan tekanan. Hal ini terlihat dari volume perdagangan dunia yang menyebabkan berkurangnya produksi di Indonesia.
 
Tantangan semakin diperburuk dengan ketegangan perdagangan antara dua kekuatan ekonomi dunia AS dan Tiongkok. Tekanan pun tidak hanya terjadi di negara-negara dengan ekonomi yang buruk fundamentalnya, tetapi juga di negara-negara dengan fundamental seperti Indonesia.
 
Sebagai bagian dari global, penyesuaian dan adaptasi dengan kehidupan di lingkungan volatilitas yang lebih tinggi perlu dilakukan. "Jika dalam waktu dekat kami melanjutkan bisnis seperti biasa ketimpangan global pasti akan meningkat lebih jauh dan lebih besar," ungkapnya.
 
Karenanya diperlukan solusi dalam tatanan ekonomi dunia yang diarahkan menjadi lebih adil, tumbuh proporsional dan berkelanjutan. Kegiatan ekonomi juga harus lebih produktif serta distribusi pendapatan yang harus lebih inklusif. Selain itu, transaksi keuangan juga harus berdasarkan real aktivitas ekonomi yang terkandung prinsip-prinsip bisnis dalam Islam.
 
"Saya melihat bahwa perkembangan ekonomi dan keuangan Islam adalah solusi untuk memperkuat struktur ekonomi dan keuangan pasar saat ini dan di masa depan," tuturnya.
 
"Keuangan berbasis syariah bisa berkontribusi dengan mempromosikan gagasan pembagian risiko dan integrasi keuangan komersial dan sosial, yang merupakan salah satu faktor utama di Indonesia dalam memastikan ketahanan ekonomi dan inklusi," pungkasnya.
 

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif