NEWSTICKER
Ilustrasi gedung Jiwasraya. Foto: MI/Ramdani.
Ilustrasi gedung Jiwasraya. Foto: MI/Ramdani.

BPK Umumkan Audit Jiwasraya 8 Januari

Ekonomi Jiwasraya
Suci Sedya Utami • 06 Januari 2020 14:55
Jakarta: Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) saat ini masih melakukan audit terhadap kasus kerugian hingga dugaan korupsi penggelapan dana yang terjadi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Hasil audit tersebut bakal diumumkan pada 8 Januari.
 
Ketua BPK Agung Firman Sampurna mengatakan audit dilakukan secara keseluruhan terhadap seluruh hal yang terlibat baik secara kelembagaan hingga individu yang terlibat. Agung mengatakan audit masalah Jiwasraya sangat kompleks.
 
"Ini kompleks masalahnya, tidak seperti yang teman-teman duga. Ini jauh lebih kompleks," kata Agung di kantor pusat BPK, Jakarta Pusat, Senin, 6 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengatakan potensi kerugian negara juga menjadi perhitungan dalam audit tersebut. Dalam pengumuman audit nanti akan disampaikan bersama dengan Kejaksaan Agung.
 
"Saya ingin sekali sampaikan cepat-cepat, tapi ya kita akan sampaikan pada tanggal 8 (Januari) secara khusus dengan Jaksa Agung termasuk dia akan lakukan re-announcement ada beberapa hal penting," tutur dia.
 
Sementara itu, Kejaksaan Agung terus mendalami kasus dugaan korupsi yang terjadi di Jiwasraya. Sebanyak lima orang telah dimintai keterangan terkait kasus tersebut.
 
"Proses penyidikan. Lima orang saksi sudah diperiksa. Sudah beri keterangan pada Jumat," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Hari Setiyono.
 
Namun Hari tidak memerinci nama ataupun inisial para saksi yang telah diperiksa. Yang pasti, kelimanya sudah masuk daftar cegah.
 
Penyidikan kasus dugaan korupsi di Jiwasrya dimulai setelah keluarnya Surat Perintah Penyidikan dengan Nomor Trim 33/F2/Fd2/12 tertanggal 17 Desember 2019.
 
Jiwasraya diduga banyak melakukan investasi pada aset-aset dengan risiko tinggi untuk mengejar keuntungan besar. Di antaranya penempatan saham sebanyak 22,4 persen senilai Rp5,7 triliun dari aset finansial.
 
Lima persen dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik, sisanya dana ditempatkan di saham yang berkinerja buruk. Kemudian, penempatan reksa dana sebanyak 59,1 persen senilai Rp14,9 triliun.
 
Dua persen dikelola manajer investasi dengan kerja baik. Sementara itu, 98 persen dikelola manajer investasi dengan kinerja buruk. Akibatnya, Jiwasraya sampai Agustus 2019 menanggung potensi kerugian negara Rp13,7 triliun.
 
Sebanyak 10 orang sudah dicegah ke luar negeri oleh pihak Imigrasi terkait kasus Jiwasraya. Mereka berinisial HR, DA, HP, NZ, DW, GL, ER, HD, BT, dan AS.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif