Ilustrasi. MI/Saskia Anindya Putri.
Ilustrasi. MI/Saskia Anindya Putri.

Indef: Pindah Ibu Kota Baiknya saat Ekonomi Sudah Mapan

Ekonomi pemindahan ibukota
Antara • 24 Agustus 2019 02:30
Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyarankan rencana pemindahan ibu kota sebaiknya dilakukan saat kondisi perekonomian yang mapan dan stabil. Hal tersebut agartidak ada lagi permasalahan-permasalahan ekonomi yang harus dihadapi.
 
Peneliti Indef Rizal Taufikurahman mengatakan, perekonomian negara dikatakan mapan dan stabil bilatingkat pengangguran rendah, lapangan pekerjaan tercukupi, hingga nihilnyapermasalahan-permasalahan ekonomi.
 
"Paling hanya stimulasi-stimulasi kebijakan untuk mempercepat kinerja produktivitas, baik itu sektoral maupun human capital. Itu yang penting," ujar Rizal dilansir Antara, Jakarta,Jumat, 23 Agustus 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia masih jauh dari kriteria-kriteria tersebut. Pemerintah dianggap belum mampumendorong pertumbuhan ekonomi, targetnya pun diyakini terkoreksi. Maka, sebut Rizal, bukan saatnya bagi Indonesia untuk punya ibu kota baru.
 
Sementara, alokasi anggaran rencana pemindahan ibu kota sebanyakRp466 triliun seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Dengan demikian mampu mendorong produktivitas industri, nilai tambah yang tinggi, sertamendorong perbaikan ekspor.
 
"Karena harapan kita, neraca pembayaran dan neraca perdagangan ekspor lebih baik daripada impor, perbaikan upah, pendapatan, kemudian pajak yang semakin baik. Ini yang penting, mestinya itu yang direalokasikan," tukas Rizal.
 
Dana rencana pemindahan ibu kota itu mestinya dialokasikan kembali untuk industri-industri, sektor-sektor atau kegiatan yang mampu mendorong perbaikan ekonomi. Utamanya pertumbuhan ekonomi dan pemerataan.
 
"Kalau dana itu digunakan untuk pemindahan ibu kota, maka hasilnya tidak mendapatkan apa-apa, hanya habiskan anggaran saja. Jadi tidak mendapatkan nilai tambah ataupun pertumbuhan ekonomi yang diharapkan, justru malah akan menambah masalah," pungkas dia.
(Azhar Bagas Ramadhan)
 

(HUS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif