Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.

Proyek Strategis Nasional Butuh Investasi Rp1.400 Triliun dari Swasta

Ekonomi infrastruktur proyek strategis nasional
Eko Nordiansyah • 27 Desember 2019 17:11
Jakarta: Pemerintah menyebut peran swasta dalam pembangunan proyek strategis nasional masih bisa ditingkatkan. Pembiayaan proyek strategis nasional masih membutuhkan investasi mencapai Rp1.400 triliun dari swasta atau lebih dari 10 kali lipat dari perkiraan sebelumnya.
 
Asisten Deputi Perumahan, Pertanahan dan Pembiayaan infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi Bastari Pandji Indra mengatakan 42 persen pembiayaan diupayakan dari badan usaha atau swasta dengan skema Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU).
 
"Tadinya diperkirakan hanya sekitar Rp170-an triliun. Itu diperkirakan 2020 dan seterusnya itu mencapai Rp1.400 triliun," kata Bastari di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat, 27 Desember 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dirinya menambahkan pemerintah mengajak swasta untuk terlibat dalam pembangunan proyek strategis nasional. Salah satunya adalah skema hak pengelolaan terbatas atau Limited Concession Scheme (LCS) dari proyek yang sudah dibangun.
 
"Itu adalah salah satu upaya bagaimana dari proyek-proyek yang sudah beroperasi atau berjalan itu, kita juga masih bisa men-generate satu skema pembiayaan untuk proyek-proyek yang baru," jelas dia.
 
Meski begitu, pemerintah tetap mengalokasikan dana sebesar Rp169,8 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selain itu, akan ada investasi dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMND) sebesar Rp968,1 triliun.
 
Ketua Tim Pelaksana Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) Wahyu Utomo menyebut investasi dari swasta asing bisa menjadi alternatif. Pasalnya jika mengandalkan swasta nasional maka dana yang ada cukup terbatas.
 
"Dia enggak mungkin pakai equity-nya sendiri, dia pasti pinjam ke perbankan, nah yang paling mudah adalah perbankan lokal. Perbankan lokal kan selama ini sudah dipakai BUMN, sehingga mungkin uangnya juga sudah mulai berkurang," ungkapnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif