Ilustrasi. (FOTO: dok MI)
Ilustrasi. (FOTO: dok MI)

Strategi Kementan Hadapi Potensi Kekeringan di Empat Wilayah

Ekonomi kementerian pertanian
Nia Deviyana • 08 Juli 2019 14:07
Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) menyusun beberapa strategi untuk menghadapi potensi kekeringan di empat wilayah Indonesia.
 
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau ekstrem berpotensi dialami empat wilayah Indonesia sampai dengan September, dan puncaknya terjadi pada Agustus.Wilayah yang terancam terdampak kekeringan terutama di Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT.
 
"Secara umum penyebab kekeringan selain karena curah hujan yang sedikit. Minimnya penampung air di sekitar lahan pertanaman juga menyebabkan air tidak tertampung optimal pada saat curah hujan tinggi sehingga tidak dapat dimanfaatkan saat musim kemarau," ujar Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy di kantor Kementan, Jalan Harsono RM, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin, 8 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Merespons hal tersebut, Kementan melaksanakan rapat koordinasi lintas sektoral dengan Dinas Pertanian Kabupaten, Dinas PU Kabupaten, serta Kodim di wilayah terdampak kekeringan sebagai mitigasi dan adaptasi kekeringan.
 
"Kegiatan ini bertujuan menentukan rencana aksi setiap kabupaten dan kecamatan sehingga semua unsur terkait bisa langsung melakukan aksi operasional yang terdampak kekeringan, baik yang sudah puso atau gagal panen, yang belum puso, maupun penanaman padi terakhir (standing crop)," tuturnya.
 
Untuk membantu wilayah yang puso, lanjut Sarwo, perlu menginventarisir keikutsertaan asuransi petani. Apabila belum ada, kata Sarwo, Kementan akan menyiapkan bantuan benih.
 
"Begitu pula untuk wilayah yang terancam kekeringan dan belum puso, perlu pengakitfan pompa, mengoptimalkan sumber air terdekat (sungai, danau, embung), normalisasi saluran, serta penyediaan sumur pantek," paparnya.
 
Musim kemarau seperti ini, urai Sarwo, bisa juga menjadi kesempatan untuk mengembangkan lahan rawa. Optimalisasi lahan rawa dinilai lebih bagus dilakukan menjelang kemarau.
 
"Oleh karena itu kami juga mengundang wilayah rawa agar mengupayakan penambahan Luas Tambah Tanam melalui optimalisasi Potensi Lahan Rawa. Rencana aksi bisa dengan bantuan benih padi, jagung, kedelai, tumpangsari, optimalisasi lahan, serta bantuan alsintan," pungkas Sarwo.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif