Indef: BI Perlu Menahan Bunga Kredit
Bank Indonesia (BI). MI/Usman Iskandar.
Jakarta: Bank Indonesia (BI) dianggap memiliki opsi yang terbatas dalam menekan potensi krisis akibat suku bunga tinggi. Hal ini terkait sinyal kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (the Fed) sebanyak 100 basis poin tahun ini.

Peneliti Institute Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai BI dapat merespond The Fed dengan menaikkan suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate) agar nilai tukar rupiah tak terpental hingga level terdalam.

Namun sebaiknya BI rate yang kini berada di level 4,75 persen, kembali dinaikkan sebelum Bos The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga bank sentral AS. Hal ini akan mendorong imbal hasil yang lebih tinggi bagi investor asing sehingga menahan capital outflow.

"Kalau The Fed mau naikkan empat kali, BI bisa naikkan lima kali sehingga imbal hasil lebih menarik investor asing," ujar Bhima saat dihubungi Medcom.id di Jakarta, Kamis, 21 Juni 2018.

Opsi selanjutnya, BI dapat menggunakan cadangan devisa untuk mejaga stabilitas rupiah. Sayangnya cadangan devisa Indonesia terus terkuras hingga menghabiskan USD9 miliar sepanjang Januari-Mei 2018.

"Upaya paling fundamental ialah dengan menekan defisit transaksi berjalan dan mendorong kinerja ekspor," tutur dia.

Selain dua opsi tersebut, pemerintah dan Bank Indonesia disarankan untuk menahan bunga kredit yang mahal seiring kenaikan suku bunga acuan. Hal itu dapat dilakukan lewat paket kebijakan yang mendorong efisiensi perbankan. Dengan begitu, bank-bank tak perlu baku hantam dalam memperebutkan dana murah.

(SAW)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360