Paradoks Bulog soal Impor Beras
Ilustrasi. Foto: Benny Bastiandy.
Jakarta: Badan Urusan Logistik (Bulog) meminta perpanjangan perizinan impor beras sebanyak 440 ribu ton. Perpanjangan izin impor itu diminta lantaran negara pengekspor, India dan Pakistan, tengah menghadapi cuaca buruk sehingga mengganggu pengapalan beras. 

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan mengakui permintaan impor beras dilakukan Direktur Utama Bulog Budi Waseso lewat surat yang dilayangkan ke Menteri Perdagangan dengan tebusan Dirjen Perdagangan Luar Negeri. Surat tersebut ditandatangani Budi Waseso tertanggal 18 Juli 2018, dengan nomor B 932/II/DU000/07/2018. 

"Bulog menyampaikan ada kendala di tempat ekspornya, sehingga memang Bulog yang mengajukan perpanjangan," kata Oke di kantornya, Jakarta Pusat, Senin, 17 September 2018 malam.

Sebelumnya, Buwas kerap mengungkapkan tidak perlu mengimpor beras. Mantan pucuk pimpinan Badan Narkotika Nasional (BNN) ini memastikan tidak mengimpor beras hingga akhir 2018. Ia mengaku stok beras di gudang Bulog saat ini masih lebih dari cukup untuk konsumsi dalam negeri.

Baca juga: Bulog Pastikan Stok Beras Cukup hingga Juni 2019

Di sisi lain, Bulog di bawah kepemimpinan Buwas telah dua kali meminta perpanjangan impor beras. Surat perpanjangan itu diajukan pada 13 Juli 2018 dan 23 Agustus 2019. 

Awalnya, izin importasi diberikan kepada Bulog dari 1 Mei 2018 sampai 31 Agustus 2018. Setelah permohonan izin diperpanjang, Kemendag memberikan waktu tambahan hingga 31 Oktober 2018 bagi Bulog untuk mengimpor. Surat terakhir, tertanggal 23 Agustus 2018 merupakan permohonan perpanjangan persetujuan impor  sebesar 1 juta ton sampai 31 Oktober 2018.

Terhadap permintaan impor beras ini, Oke mengatakan, saat ini terdapat kendala untuk menyusun kembali shipping document sehingga membutuhkan waktu yang relatif lama. Atas dasar itu, lanjut Oke, Kemendag memberikan izin kepada Bulog.

"Kami tidak punya gudang untuk itu. Kan yang ditugaskan melakukan importasi kan Bulog. Bukan Kemendag. Kami sepenuhnya terserah kepada Bulog soal impor," kata Oke. 

Di kesempatan berbeda, Menko Perekonomian Darmin Nasution menerangkan impor beras hanya dilakukan untuk menekan harga beras yang terus meningkat dan serapan gabah dalam negeri yang kurang maksimal. 

Menurut Darmin, hal itu disebabkan beberapa hal, mulai dari kondisi cuaca hingga produksi petani yang kurang. Bahkan dihadapan DPR RI, Darmin menyatakan jika tidak impor beras, maka stok dalam negeri akan kurang.

Direktur Center For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi meminta Budi Waseso membersihkan lembaganya dari mafia beras. Bahkan, tegas Uchok, Buwas harus mencopot Direktur Pengadaan Perum Bulog Bachtiar dari jabatannya lantaran surat permohonan perpanjangan izin impor yang dilayangkan Bahctiar ke Kemendag telah mempermalukan Bulog. Uchok mempertanyakan sikap Buwas paradoks dengan jajarannya.

"Pak Buwas segera melakukan evaluasi dan pemecatan Direktur Pengadaan, karena dia sudah menolak impor, dan berjanji mengambil punya petani, makanya pecat saja Direktur Pengadaan ini," ungkap Uchok.

Baca juga: Kontroversi Impor Beras

Selain itu lanjut Uchok, Buwas perlu mengungkap mafia pangan dari sektor swasta. Pasalnya, pihak swasta kerap melakukan intervensi kepada pemerintah bahwa stok beras tak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat.

"Pihak swastanya diungkap saja. Bulog itu bukan ladang mafia beras. Mau dia PNS atau apapun itu pecat saja. Kalau dia swasta ungkap ke publik," tukasnya.

Menanggapi polemik impor beras, anggota Komisi IV DPR RI, Fadholi mengatakan kebijakan kuota impor beras sebanyak dua juta ton pada tahun ini merupakan langkah antisipasi untuk menciptakan ketahanan pangan nasional. Selain itu, dia meyakini kebijakan impor beras diambil berdasar keputusan pemerintah.

"Kemendag menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, dan tentunya (kebijakan itu) ada perhitungannya. Pasti melakukan rapat koordinasi dulu bersama semua pihak terkait," pungkas dia.





(HUS)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id