Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno. (FOTO: Medcom.id/Suci Sedya)
Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno. (FOTO: Medcom.id/Suci Sedya)

BUMN Untung Dibenci, Rugi Dicibir

Ekonomi bumn kementerian bumn
Suci Sedya Utami • 26 Maret 2019 19:32
Jakarta: Total laba seluruh perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengalami kenaikan dari Rp186 triliun menjadi Rp188 triliun pada tahun lalu. Namun kenaikan laba menjadi dilema bagi perusahaan pelat merah.
 
Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan jika BUMN untung, maka akan dianggap memonopoli usaha di Indonesia oleh swasta. Namun jika rugi, tentu BUMN akan disalahkan.
 
"Semakin dicibir, dibenci. Naik salah, apalagi rugi," kata Fajar dalam acara CFO BUMN Award di Hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, 26 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Padahal, tambah Fajar, dalam UU BUMN disebutkan lima tujuan BUMN. Nomor satu yakni mencari keuntungan. Artinya jika mencetak laba, maka memang diamanatkan dalam konstitusi negara.
 
Dirinya mengatakan saat ini tidak ada BUMN yang lagi memonopoli atau diberikan keistimewaan. Dia bilang hanya PLN yang memang masih memonopoli di sisi distribusi listrik, namun untuk sisi produksi kini sudah dimungkinkan bersaing dengan perusahaan lain dalam hal independent power producer (IPP).
 
Begitu juga dengan BUMN konstruksi yang dianggap selama ini memonopoli. Fajar menuturkan hal tersebut bisa dibuktikan bahwa dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang masuk ke BUMN konstruksi hanya 37 persen.
 
Lebih jauh dirinya menyatakan bahwa BUMN jika berkinerja bagus selalu dibenci, namun di sisi lain juga kerap dirindukan. Misalnya saja Pertamina, ketika ada kelangkaan BBM maka yang paling dicari-cari tentu Pertamina. Padahal pelaku bisnis hilir migas bukan hanya Pertamina.
 
Sebagai informasi dalam laporan keuangan BUMN hingga sepanjang 2018 total aset BUMN menembus angka Rp8.092 triliun. Jumlah tersebut naik Rp882 triliun dari capaian 2017 sebesar Rp7.210 triliun. Sementara total laba BUMN tumbuh menjadi Rp188 triliun dari Rp186 triliun pada 2017.
 
Besarnya kontribusi BUMN dalam pembangunan infrastruktur pun terlihat dari belanja modal atau capex BUMN yang meningkat sepanjang 2018 mencapai Rp487 triliun. Jumlah tersebut naik signifikan dibandingkan 2017 yang sebesar Rp315 triliun. Kontribusi BUMN terhadap APBN pun melonjak menjadi Rp422 triliun atau naik Rp68 triliun dari setoran 2017 sebesar Rp354 triliun.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif