Rupiah Perkasa, BI Diramal Tahan Suku Bunga Acuan
Rupiah. MI/RAMDANI.
Jakarta: Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan menilai Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur pekan depan bakal menahan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) di level 5,75 persen. Perkiraan itu mengingat kondisi nilai tukar rupiah terus mengalami penguatan.

"Kalau melihat situasi terakhir ini ya, kalau kondisi inflow masih berlanjut  dan rupiah masih menguat. Saya rasa masih ditahan dulu (suku bunga acuan)," ujar Anton saat ditemui di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Kamis, 8 November 2018.

Anton menambahkan BI rate sebaiknya memiliki ruang sebesar 350 basis poin terhadap  Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (the Fed). Saat ini, BI7DRRR berada di level 5,75 persen, sedangkan The Fed berada di level 2,25 persen. Artinya, kurs rupiah relatif terkendali disertai tren inflasi yang rendah.

"Kalau dalam tekanan tinggi butuh 450 basis poin, kalau stabil kayak gini cukup disitu," imbuhnya.

Adapun penguatan rupiah diprediksi terus berlanjut ditopang oleh berbagai faktor eskternal, khususnya euforia kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Legislatif di Amerika Serikat (AS). Kemenangan tersebut membuat pasar berspekulasi bahwa dominasi partai Republik yang saat ini menentukan arah pengelolaan fiskal AS menjadi berkurang.

"Ya baru mungkin Desember dilihat lagi, apakah nanti BI perlu menaikkan suku bunga acuannya," katanya.

Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Oktober 2018 memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Suku bunga deposit facility tetap lima persen dan lending facility masih 6,5 persen.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id