Illustrasi. Dok: MI.
Illustrasi. Dok: MI.

BI Proyeksikan Pertumbuhan Kredit 12% di 2019

Ekonomi bank indonesia kredit ekonomi indonesia
Nia Deviyana • 20 Desember 2018 20:30
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2019 berada dalam kisaran 10-12 persen secara year on year (yoy). Selain itu, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tercatat rendah yakni sebesar 2,6 persen (gross) atau 1,2 persen (net).
 
"Bank Indonesia terus berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, termasuk memantau kecukupan dan distribusi likuiditas di perbankan," jelas Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Kompleks Perkantoran BI, Kamis, 20 Desember 2018.
 
Dari fungsi intermediasi perbankan, pertumbuhan kredit pada Oktober 2018 tercatat sebesar 13,3 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 12,7 persen (yoy).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Oktober 2018 sebesar 7,6 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,6 persen (yoy).
 
Sedangkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga diproyeksikan sekitar 8-10 persen (yoy). Hal ini seiring dengan stabilitas keuangan yang terjaga dengan baik. Adapun rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan cukup tinggi mencapai 22,9 persen dan rasio likuiditas masih aman, yakni sebesar 19,2 persen hingga akhir Oktober 2018.
 
Pada kesempatan yang sama, Perry memaparkan pembiayaan ekonomi melalui pasar modal, penerbitan saham (IPO dan right issue, obligasi korporasi, Medium Term Notes (MTN), dan Negotiable Certificate of Deposit (NCD) selama Januari hingga Oktober 2018 tercatat sebesar Rp178,9 triliun (gross).
 
"Turun dibandingkan dengan capaian periode yang sama pada 2017 sebesar Rp231,6 triliun (gross)," tambah dia.
 
Di sisi lain, Kelancaran sistem pembayaran tetap terpelihara, baik dari sisi tunai maupun nontunai, sehingga turut menopang kinerja perekonomian domestik. Kemudian pembayaran tunai (Pengelolaan Uang Rupiah), posisi uang yang diedarkan (UYD) meningkat 7,3 persen (yoy) di November 2018, seiring dengan peningkatan musiman untuk kebutuhan uang menjelang libur Natal dan Tahun Baru.
 
Di sisi pembayaran nontunai nilai besar, nilai transaksi yang diselesaikan melalui transaksi BI Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) pada November 2018 sedikit menurun sebesar 1,7 persen (yoy).
 
Sementara pada sistem pembayaran ritel, rata-rata harian nominal kliring melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) tumbuh 9,7 persen (yoy) pada November 2018, meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 6,7 persen (yoy). Adapun transaksi masyarakat menggunakan ATM-Debit, Kartu Kredit dan Uang Elektronik tumbuh 13,2 persen (yoy) pada Oktober 2018.
 
"Bank Indonesia akan terus memastikan kelancaran dan ketersediaan sistem pembayaran nasional, baik terhadap sistem yang dioperasikan oleh Bank Indonesia maupun yang diselenggarakan oleh industri, termasuk menjamin keamanan dan kelancaran sistem pembayaran menjelang akhir tahun," pungkas Perry.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif