KKP Ajak Generasi Milennial Cinta Makan Ikan
Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Rifky Effendi Hardijanto. Foto Dokumen KKP.
Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak generasi milenial untuk cinta makan ikan. Sejalan dengan Hari Ikan Nasional (Harkannas) 2018, KKP membangun budaya makan ikan ke arah yang kekinian dengan melibatkan generasi milennial untuk terus menggencarkan dan mempromosikan cinta makan ikan.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Rifky Effendi Hardijanto mengatakan pihaknya telah menggagas Seafood Lovers Millennial. Gagasan tersebut menggaungkan kuliner seafood asli Nusantara ke penjuru dunia.

"Kita sebagai salah satu penghasil ikan dunia tapi makanan yang dikenal dan diakui dunia baru rendang, nasi goreng, sate, gado-gado, soto. Mayoritas berbahan baku daging. Nah, kami ingin mempromosikan makanan khas seafood Nusantara," ujar Rifky dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis, 22 November 2018.

Selain membangun konsumsi ikan ke arah kekinian, lanjutnya, KKP juga terus menggenjot ekspor hasil perikanan. Pasalnya, ekspor hasil perikanan merupakan salah satu penambah devisa negara yang punya andil besar dalam menggairahkan ekonomi bangsa. 

Ada tiga komoditas produk perikanan yang menjadi primadona ekspor yakni udang, tuna, dan patin. Udang meraup nilai ekspor sebanyak USD1,3 miliar, sementara tuna sebesar USD433,6 juta. "Ke depan bukan hanya udang saja, tapi tuna dan patin akan kita tingkatkan ekspornya," tegas dia.

Baca juga: KKP Siap Rebut Peluang Ekspor Ikan Patin ke AS dan Eropa

Di bagian lain, sambung Rifky, Harkannas juga menjadi momentum untuk terus membudayakan konsumsi ikan sebagai makanan pokok setiap hari. Ini mengingat konsumsi perikanan dalam negeri masih sedikit.

"Ikan merupakan sumber protein yang sangat besar, dengan makan ikan kita bisa lebih sehat dan turut serta dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa. Oleh karenanya, kami mengajak seluruh elemen masyarakat bukan sekadar mengkonsumi saja tapi turut serta menggerakan makan ikan menjadi suatu budaya bangsa," tuturnya.

Rifky membeberkan konsumsi ikan nasional per kapita per tahun trennya selalu naik. Merujuk data sepanjang lima tahun belakangan, target konsumsi ikan per kapita setiap tahunnya selalu meningkat.

Pada 2014 target konsumsi ikan per kapita per tahun sebesar 38,14 kg; 2015 sebanyak 40,9 kg per kapita per tahun; 2016 sebanyak 43,88 kg per kapita per tahun; 2017 sebesar 47,12 kg per kapita per tahun; serta 2018 sebesar 50 kg per kapita per tahun. Sementara untuk 2019, target konsumi perikanan nasional menjadi 54,49 per kapita per tahun.

Namun demikian, konsumsi ikan nasional masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Malaysia, misalnya, konsumsi ikannya mencapai sebanyak 70 kg per kapita per tahun. Sementara Singapura 80 kg per kapita per tahun dan Jepang mendekati 100 kg per kapita per tahun.

"Kita negara kepualauan mempunyai komoditas ikan yang beragam, baik ikan tangkapan (laut) atau ikan budidaya. Harapannya konsumsi ikan nasional kita bisa menyamai negara-negara lain, syukur-syukur bisa menyamai Jepang," sambungnya.

Kampanye cinta makan ikan untuk menghindari kasus gizi ganda (kelebihan dan kekurangan gizi) serta stunting (bayi lahir pendek). Untuk itu, makan ikan diharapkan mampu menjadi solusi atas masalah-masalah tersebut sehingga mampu mendukung ketersediaan sumber pangan bergizi bagi masyarakat. 

"Ikan merupakan komoditas pangan yang mudah didapat di Indonesia, di samping itu harganya juga terjangkau. Selain itu juga mempunyai kandungan gizi yang tinggi terutama kandungan protein dan omega 3," pungkas Rifky.





(HUS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id