Asuransi Jiwasyara. Foto : MI/RAMDANI.
Asuransi Jiwasyara. Foto : MI/RAMDANI.

Kementerian BUMN Minta Audit untuk Investasi Asuransi Jiwasraya

Ekonomi asuransi jiwa
Suci Sedya Utami • 21 November 2019 21:47
Jakarta: Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga menyebut Asuransi Jiwasraya menginvestasikan uang nasabah di saham gorengan sehingga berakibat merugi pada akhirnya.
 
Saham gorengan merupakan saham yang bergerak liar pada waktu tertentu. Saham gorengan terlihat menggiurkan karena harganya bisa naik sangat tinggi. Namun di balik itau semua, perlu diwaspadai karena ada pihak-pihak yang menggerakkan harga saaham tersebut.
 
Oleh karenanya, Kementerian BUMN meminta bantuan pihak Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk memeriksa apakah ada kongkalikong sehingga membuat Jiwasraya kolaps seperti sekarang.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Memang saham gorengan yang diinvestasikan Jiwasraya. Itu digoreng ketika saat-saat tertentu. Makanya kita minta Kejaksaan untuk meneliti," kata Arya di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Kamis, 21 November 2019.
 
Selain itu, Kementerian BUMN juga tengah mencari laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) perihal keuangan Jiwasraya. Arya bilang laporan BPK bisa menjadi acuan bagi kejaksaan dalam menangani kasus tersebut.
 
Arya mengatakan sikap kementerian untuk menyerahkan ke Kejakgung supaya dapat diproses dan diperiksa apakah kasus ini masuk dalam ranah pidana atau tidak.
 
"Banyak laporan dari masyarakat dan kita tidak tahu tindak pidananya di mana. makannya kita serahkan ke Kejaksaan," tutur dia.
 
Langkah ini diyakini Arya sebagai langkah terbaik agar kasus yang telah lama ini terselesaikan dengan cepat.
 
"Intinya adalah supaya Kejagung bisa proses, apakah ada unsur pidana atau tidak. Kalau ada unsur pidana tolong diproses supaya clear hukumnya dari pada menggantung terus," ucap dia.
 
Sebelumnya, Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Jiwasraya dengan Komisi XI DPR pada 12 November 2019 lalu, Jiwasraya membutuhkan suntikan modal sebesar Rp32,89 triliun untuk dapat memenuhi rasio kecukupan modal berbasis risiko (RBC) 120 persen. Per September 2019, aset perseroan sebesar Rp25,68 triliun, sedangkan kewajiban mencapai Rp49,60 triliun. Artinya, ada ekuitas negatif sekitar Rp23,92 triliun.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif