Ilustrasi Garuda Indonesia. ANT/Fikri Yusuf.
Ilustrasi Garuda Indonesia. ANT/Fikri Yusuf.

Bos Garuda: Bisnis Penerbangan Lumrah Berutang

Ekonomi bumn Garuda Indonesia penerbangan
Husen Miftahudin • 24 Januari 2020 21:43
Jakarta: Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menyebut bisnis penerbangan lumrah berutang. Membeli armada penerbangan misalnya, Garuda melakukannya dengan mencari pinjaman atau berutang.
 
"Jadi kalau Garuda berutang itu adalah tipikal (bisnis di) airline, menurut saya memang harus berutang. Kalau anda beli pesawat cash, mendingan dipakai buat yang lain," ujar Irfan dalam konferensi pers di Gedung Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat, 24 Januari 2020.
 
Perusahaan penerbangan pelat merah itu juga kini sedang mencari utang baru demi melunasi utang jatuh tempo. Demi memuluskan langkah tersebut, Irfan bakal menyewa konsultan dan negosiator swasta agar mampu menegosiasi utang baru dan mendapatkan harga yang sesuai.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan catatan Ombudsman RI, Garuda memiliki utang sebanyak USD500 juta atau setara Rp7 triliun (kurs Rp14 ribu per USD). Utang tersebut bakal jatuh tempo pada Mei 2020.
 
Selain itu, Irfan punya beberapa skema untuk membereskan utang perusahaan. Di antaranya melakukan negosiasi kepada pabrikan pesawat. Namun, Irfan enggan menjelaskan rinci upaya tersebut.
 
Di samping itu, pihaknya bakal melakukan efisiensi dengan menekan biaya sewa armada penerbangan atau leasing. Menurutnya, biaya leasing merupakan salah satu ongkos terbesar yang dikeluarkan perusahaan selain avtur.
 
"Kalau kita bisa menekan biaya di leasing, profit kita bisa naik, profit kita ini bisa kita pakai untuk mengurangi utang. Sehingga pada titik tertentu kita bisa utang lagi, circle-nya seperti itu," jelas dia.

 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif