Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (kanan) bersama Menteri Perdagangan Agus Suparmanto (kiri). Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (kanan) bersama Menteri Perdagangan Agus Suparmanto (kiri). Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.

Mentan dan Mendag Sepakat Bersinergi Kendalikan Inflasi

Ekonomi inflasi kementerian pertanian kementerian perdagangan
Ilham wibowo • 11 November 2019 12:04
Jakarta: Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dan Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto telah bertemu membahas beragam proyeksi di sektor pangan. Keduanya berkomitmen menjalankan sinergi terutama dalam mengendalikan angka inflasli nasional.
 
"Komitmen Mendag menjadi sinyal positif buat Mentan, bahwa Kementan dan Kemendag itu satu kesatuan yang sinergitasnya masih dan mutlak dibutuhkan. Mendag hari ini sudah datang ke kementerian ini, bersama dirjen-dirjennya dan besok saya ke Kemendag untuk menyelesaikan hal-hal yang menjadi harapan kita," kata Syahrul ditemui di kompleks perkantoran Kementan, Jakarta, Senin, 11 November 2019.
 
Syahrul memastikan kekuatan dan potensi yang ada negeri ini mesti dioptimalkan. Ego sektoral pun perlu dikesampingkan dari sesama pembantu Presiden Joko Widodo.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini juga perintah presiden bahwa sinergitas antara satu kementerian, ego sektoral antarkementerian tidak boleh terjadi. Ini permulaan sangat baik antara kami, antara menteri yang menyatukan satu program dengan program lain," ungkapnya.
 
Mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini juga menginginkan tumpah tindih kebijakan di lembaga pemerintah tidak terjadi. Sehingga, seluruh pemikiran difokuskan untuk kemajuan bangsa.
 
"Dengan demikian tentu saja kita bisa lebih cepat antisipasi semua kebutuhan-kebutuhan yang tersedia dan ada di dalam negeri. Dengan komunikasi politik, komunikasi ekonomi, komunikasi dan diplomasi pertanian harus dilakukan secara timbal balik," ujarnya.
 
Syahrul juga sepakat produk pangan dalam negeri mesti jadi prioritas terutama dalam pemenuhan konsumsi masyarakat di Tanah Air. Produk pangan maupun olahan pangan pun mesti jadi penyumbang terbesar angka ekspor.
 
"Jangan selalu bicara impor, tapi lebih banyak bicara ekspor. Mau ekspor ke tempat lain enggak haram juga kalau memang harus timbal balik terbuka, kita harus mendahulukan apa yang kita miliki, kita harus utamakan yang kita miliki," ujarnya.
 
Meski demikian, Syahrul mengaku tak alergi terhadap impor selama keseimbangan perdagangan tetap terjaga. Kebijakan tersebut bisa dilakukan dengan syarat ketat produk di dalam negeri telah dipastikan tak bisa memenui kebutuhan masyarakat.
 
"Tadi Pak Mendag mengatakan kecuali ada ruang kosong saat kita sudah berenang setengah mati pun akan sulit kalau ruang luar negeri tidak kita buka," ucapnya.
 
Sementara itu Mendag Agus mengatakan pada prinsipnya kebijakan impor dilakukan untuk menutup kekosongan produk di dalam negeri. Ia pun berkomitmen memprioritaskan produk di Tanah Air.
 
"Kekosongan itu artinya kita harus lihat ada substitusinya tidak. Karena kalau impor semua ternyata sudah ada substitusinya, kita akan evaluasi," kata Agus.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif