Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)

Jokowi Beberkan Realisasi Pembangunan Infrastruktur

Ekonomi infrastruktur RAPBN 2020 Nota Keuangan 2019
Angga Bratadharma • 16 Agustus 2019 15:53
Jakarta: Pemerintah mengklaim sudah berhasil membangun berbagai infrastruktur bagi masyarakat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) khusus. Selama periode 2017-2018, DAK fisik telah dimanfaatkan untuk peningkatan jalan sepanjang 17,7 ribu kilometer, dan penyelesaian pembangunan jembatan sepanjang 7,8 ribu meter.
 
Selain itu, untuk pembangunan ruang kelas baru sebanyak 14,2 ribu unit, pembangunan laboratorium sekolah sebanyak 4,0 ribu unit, peningkatan dan pembangunan jaringan irigasi sebanyak 373,1 ribu hektare (ha), pembangunan rumah dan peningkatan kualitas rumah sebanyak 112,3 ribu unit, serta rehabilitasi sarana prasarana kesehatan sebanyak 8,6 ribu unit per paket.
 
Hal itu diungkapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Pidato Presiden Republik Indonesia dalam rangka Penyampaian RUU APBN Tahun Anggaran 2020 disertai Nota Keuangan dan Dokumen Pendukungnya pada Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2019-2020, di Gedung DPR, Jakarta, Jumat, 16 Agustus 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada 2020, tambah Jokowi, selain dukungan pendanaan kelurahan, pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk penghasilan tetap perangkat desa agar kinerja dan kualitas pelayanan penyelenggaraan pemerintahan desa meningkat. Selain itu, telah dialokasikan juga anggaran untuk penggajian Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
 
"Untuk mendukung pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)," jelas Jokowi.
 
Lebih lanjut, Jokowi mengakui, tantangan ekonomi ke depan semakin berat dan kompleks. Jokowi menjelaskan tantangan berat ini disebabkan oleh dinamika ketidakpastikan global, perlambatan ekonomi dunia, hingga krisis di beberapa negara emerging market. "Tantangan ekonomi ke depan semakin berat," ujarnya.
 
Bahkan, tambahnya, Indonesia turut terimbas perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, termasuk depresiasi nilai mata uang beberapa negara seperti yuan Tiongkok dan peso Argentina, membuat Indonesia harus waspada.
 
"Beberapa negara sedang mengalami pertumbuhan negatif. Ini membuat kita harus waspada," pungkasnya.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif