Illustrasi. Dok : MI.
Illustrasi. Dok : MI.

Promo Berlebihan Ojek Online Bikin Persaingan Tak Sehat

Ekonomi transportasi berbasis aplikasi
Eko Nordiansyah • 19 Mei 2019 15:44
Jakarta: Berbagai program promosi yang dijalanlan oleh perusahaan penyedia jasa transportasi online dinilai akan membuat persaingan usaha yang tidak sehat. Strategi promosi tarif di luar batas wajar dapat melahirkan aksi monopoli dan pada akhirnya akan justru merugikan mitra pengemudinya sendiri.
 
Direktur Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Harryadin Mahardika menyebut berbagai promosi yang diterapkan oleh perusahaan seperti Grab bisa berdampak negatif. Menurutnya kegiatan promosi itu dapat dikategorikan sebagai predatory promotion yang bertujuan memonopoli pasar.
 
"Dalam jangka panjang tentu saja akan menciptakan ketidakseimbangan pasar. Konsumen yang sensitif terhadap harga akan beralih ke layanan perusahaan yang melakukan predatory promotion tersebut, meski ada risiko turunnya kualitas pelayanan akibat kenaikan permintaan yang drastis," kata dia dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu, 19 Mei 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dirinya menambahkan, kegiatan promosi yang berlebihan juga bisa berdampak buruk bagi mitra, karena beban layanan bertambah seiring minimnya imbal jasa. Mitra pengemudi akan memiliki beban kerja yang terus meningkat, sedangkan syarat insentif dan bonus justru semakin diperketat.
 
"Dari sisi kompetitor, predatory promotion yang dibiarkan terus berlanjut akan mewujudkan misi ‘winner takes all’. Strategi yang diterapkan oleh beberapa perusahaan dari luar negeri ini bisa merusak pondasi industri berbasis inovasi di dalam negeri yang sudah susah payah dibangun," lanjut dia.
 
Sementara itu, Pengamat Transportasi dari Universitas Soegijapranata Djoko Setijowarno mengatakan praktek banting harga di bisnis ojek online nyata terjadi di lapangan. Walau ketentuan tarif sudah diatur, tapi ada gejala di lapangan aplikator perang diskon, perang harga, dan promosi.
 
"Nah, di sini harus berperan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Penting bagi pemerintah memerangi strategi predatory pricing, bukan hanya bagi kepentingan konsumen dan mitra driver yang jumlahnya jutaan, tapi juga untuk menciptakan iklim kompetisi bisnis yang sehat," ungkapnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif