Petani kelapa sawit. (FOTO: dok MI)
Petani kelapa sawit. (FOTO: dok MI)

Kelapa Sawit Bukan Penyebab Langsung Deforestasi

Ekonomi minyak sawit kelapa sawit
Nia Deviyana • 02 Juli 2019 11:08
Jakarta: Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Prof Dr Yanto Santosa menjelaskan kelapa sawit bukanlah penyebab langsung deforestasi di Indonesia.
 
Berpedoman pada sejarah degradasi lahan di Indonesia, Yanto mengungkapkan konversi lahan perkebunan kelapa sawit bermula dari penanaman kelapa sawit pada lahan yang terlebih dahulu terdegradasi akibat kegiatan penebangan ataupun kebakaran hutan.
 
"Kegiatan konversi lahan demi kepentingan ekonomi dan keamanan pangan merupakan hal yang lumrah, terutama pada negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia," kata Yanto melalui keterangan resminya, Selasa, 2 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mengisi seminar sawit berkelanjutan di Oslo Norwegia, belum lama ini Yanto memaparkan kesuksesan program transmigrasi mendorong konversi hutan sehingga ada peralihan fungsi hutan tropis menjadi lahan-lahan untuk tanaman pangan seperti padi.
 
"Pada 1980an, pemerintah mendorong pelaku usaha kelapa sawit dan industri kayu untuk meningkat produktiftas lahan hutan terdegradasi," kata Yanto.
 
Puncak deforestasi terjadi pada periode 1950-1985 dan 1985-2000 yaitu sebesar 42 juta hektare (ha) dan 16 juta ha, sementara ekspansi lahan untuk kelapa sawit hanya satu juta ha dan tiga juta ha dalam periode yang sama.
 
Fakta menarik lainnya, lanjut Yanto, konversi lahan perkebunan kelapa sawit hingga 2010 yaitu sekitar delapan juta ha, 5,5 juta ha di antaranya berasal dari konversi lahan pertanian dan lahan terlantar. Sementara, 2,6 juta ha merupakan hasil dari konversi hutan produksi.
 
Sehingga ia menyimpulkan perkebunan kelapa sawit bukanlah penyebab langsung deforestasi, bahkan konversi lahan kelapa sawit dapat dikategorikan sebagai penghijauan kembali atau rehabilitasi lahan yang semula telah terdegradasi.
 
"Bukti sejarah lainnya yang menunjukkan bahwa kelapa sawit bukan penyebab langsung deforestasi di Indonesia yaitu awal pendirian perkebunan di Sumatera Utara pada 1863. Komoditas pertama yang ditanam saat itu adalah tembakau bukan kelapa sawit, yang pada saat itu merupakan komoditas perdagangan utama di pasar Eropa," pungkas Yanto.
 
Industri kelapa sawit Tanah Air sedang mengalami tantangan akibat isu deforestasi. Penghapusan biofuel berbasis kelapa sawit rencananya akan ditetapkan Uni Eropa pada 2030. Hal ini tertuang dalam Delegated Regulation no C (2019) 2055 Final tentang High and Low ILUC Risk Criteria on biofuels.
 
Jika disahkan, maka kebijakan tersebut bakal memberi dampak signifikan pada ekspor sawit Indonesia ke Eropa karena tidak hanya peredaran kelapa sawit mentah yang dilarang tetapi juga seluruh produk turunan yang menggunakan kelapa sawit mentah.
 
Adapun kinerja ekspor sawit Indonesia secara keseluruhan (CPO dan produk turunannya) pada 2018 tercatat naik sebesar delapan persen atau dari 32,18 juta ton pada 2017 meningkat menjadi 34,71 juta ton di 2018. Peningkatan paling signifikan dicatatkan oleh produk biodiesel yaitu sebesar 851 persen atau dari 164 ribu ton pada 2017 menjadi 1,56 juta ton pada 2018.
 
Sementara nilai sumbangan devisa dari kelapa sawit pada 2018 diperkirakan mencapai USD20,54 miliar atau menurun 11 persen dibandingkan dengan nilai devisa 2017 yang mencapai USD22,97 miliar. Hal ini salah satunya dipengaruhi harga rata-rata CPO yang menurun di angka USD595,5 per metrik ton atau menurun 17 persen dibandingkan rata-rata harga pada 2017 senilai USD714,3 per metrik ton.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif