Ilustrasi peternak ayam. (FOTO: MI/M Taufan SP Bustan)
Ilustrasi peternak ayam. (FOTO: MI/M Taufan SP Bustan)

Menyejahterakan Buruh Tani dengan Beternak Ayam

Ekonomi kementerian pertanian
Ade Hapsari Lestarini • 16 Januari 2019 16:10
Jakarta: Where there's a will, there's a way. Di mana ada keinginan, pasti ada jalan. Pepatah tersebut pantas disematkan ke seorang buruh tani di Desa Kiarajangkung, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Cicih.
 
Dengan tekun, Cicih memelihara ayam-ayam yang perlahan menghasilkan telur berkualitas. Sehingga bisa mendatangkan pundi-pundi untuk menghidupi kebutuhan dapurnya yang 'ngebul'.
 
Cicih merupakan penerima bantuan 50 ekor ayam kampung petelur unggul yang dirawatnya sejak enam bulan lalu. Ketika itu, ayam yang merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) masih berupa Day Old Chick (DOC), atau bibit ayam. Bersama DOC, Cicih dan suaminya yang juga buruh tani menerima bantuan kandang sederhana, pakan, dan obat-obatan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sebelumnya belum pernah pelihara ayam, diajari sama Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) bagaimana caranya pelihara (ayam)," tutur Cicih, Rabu, 16 Januari 2019.
 
Sejak itu, Cicih dan suaminya bersungguh-sungguh merawat dan membesarkan. Dia mengatakan setelah enam bulan bertelur, dalam sehari bisa bertelur 5-7 butir. Cicih pun memilah antara telur besar dan kecil.
 
"Yang besar dikumpulkan, yang kecil dimakan. Yang besar kalau sudah banyak saya jual. Seminggu bisa dapat 30 telur, dijual ke BUMDes Rp1.500 per butir," ujar Cicih.
 
Dia mengungapkan sebelum memelihara ayam kampung petelur unggul dari Kementan, pendapatan Cicih dan suaminya tak menentu. Bergantung ada tidaknya orang yang meminta bantuan. Saat tidak ada lahan yang digarap, maka tak ada pendapatan.
 
"Dulu kerjanya cuma buruh tani, tunggu ada yang nyuruh. Enggak punya sawah, enggak punya apa-apa. Dulu cuma dapat Rp20 ribu sehari. Sekarang Alhamdulillah Rp40 ribu sehari," tambah Cicih.
 
Memberdayakan Masyarakat dan Pemuda Desa
 
Di BUMDes, tidak semua telur-telur ayam kampung yang dibeli dari warga peternak dijual kembali. Sebagian ditetaskan menggunakan mesin pentetas telur yang juga diberikan sebagai bantuan oleh pemerintah melalui Kementan.
 
"Telur yang berhasil ditetaskan kemudian dijual sebagai DOC. Agar lebih banyak lagi warga yang merasakan manfaat dari budidaya ayam kampung petelur unggul," tambah Sambas, pengurus Bumdes Amanah Kecamatan Sukahening.
 
Adang, penerima bantuan ayam kampung petelur unggul lainnya sepakat dengan pola ini. Ia melihat banyak potensi lokal yang belum dioptmalkan untuk meningkatkan taraf hidup warga pedesaan.
 
"Ke depan kita ingin generasi muda tidak terlalu urban ke kota," kata Adang.
 
Adang yang sebelumnya bertani padi organik mengaku masih belajar berbudidaya ayam petelur. Telur pertama yang dihasilkan belum maksimal ukuran dan jumlahnya. Menurut cerita pengalaman peternak lain yang ia dapatkan, hasil lebih maksimal baru didapat setelah bertelur beberapa kali.
 
Di kampungnya, kampung Cipalegor, Desa Kiarajangkung, Kecamatan Sukahening ada 36 Rumah Tangga Miskin (RTM) yang meneirma bantuan ayam kampung. Masing-masing menerima 50 ekor ayam. Adang membayangkan RTM gelombang pertama penerima bantuan ini akan menjai contoh teladan bagi warga lainnya.
 
Bantuan ayam kampung petelur unggul di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, merupakan bagian dari Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja) Kementan. Program ini bertujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat perdesaan. Melalui kegiatan pertanian yang terintegrasi dalam rangka pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat miskin.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif