Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Medcom/Ilham Wibowo.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Medcom/Ilham Wibowo.

Pemerintah Genjot Industri Manufaktur Berorientasi Ekspor

Ekonomi ekspor debat capres
17 Februari 2019 12:30
Jakarta: Industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap nilai ekspor nasional. Oleh karena itu, pemerintah semakin menggenjot kinerja industri pengolahan nonmigas yang punya orientasi ekspor.
 
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa hal ini akan dilakukan melalui penerapan industri 4.0 yang diyakini bisa memacu produktivitas dan kualitas secara efisien sehingga produk yang dihasilkan lebih inovatif dan kompetitif. Dia menjelaskan making Indonesia 4.0 bakal mengembalikan sumbangsih rasio ekspor netto terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 5-10 persen pada tahun 2030.
 
“Maka itu, perlu mengakselerasi ekspor produk yang memiliki nilai tambah tinggi,” ujarnya dalam keterangannya, Minggu, 17 Februari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam hal ini, Kementerian Perindustrian serius menjalankan kebijakan hilirisasi industri, yang juga mampu membawa efek berantai pada penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa.
 
Kemenperin mencatat, ekspor dari industri pengolahan nonmigas terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Pada 2015, nilai ekspor produk manufaktur mencapai USD108,6 miliar, naik menjadi USD110,5 miliar di 2016. Pada 2017, tercatat di angka USD125,1 miliar, melonjak hingga USD130 miliar di 2018 atau naik sebesar 3,98 persen.
 
"Jadi, tahun lalu kontribusinya mencapai 72,25 persen. Di 2019 ini, kami akan lebih genjot lagi sektor industri manufaktur untuk meningkatkan ekspor, terutama yang punya kapasitas lebih," ungkap Airlangga.
 
Adapun, lima sektor manufaktur yang pertumbuhannya di atas lima persen dan memiliki catatan kinerja ekspor gemilang di 2018, yakni industri makanan dan minuman yang nilai ekspornya mencapai USD29,91 miliar, disusul industri tekstil dan pakaian jadi sebesar USD13,27 miliar, serta industri logam dasar USD15,46 miliar.
 
Selanjutnya, industri karet, barang dari karet dan plastik menembus hingga USD7,57 miliar, serta industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki di angka USD5,69 miliar.
 

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif