Panen Padi. ANT/Asep Fathulrahman.
Panen Padi. ANT/Asep Fathulrahman.

Pengamat: Rendahnya Produksi Padi karena Adopsi Benih Unggul Lamban

Ekonomi padi
Husen Miftahudin • 22 Mei 2017 17:47
medcom.id, Jakarta: Produksi padi di Indonesia meningkat meski kenaikannya tidak signifikan. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas padi adalah adopsi benih unggul oleh petani yang lamban.
 
Pengamat Kebijakan Pertanian Bustanul Arifin mencontohkan pada penggunaan benih jenis Inbrida Padi Irigasi (Inpari13) yang dikeluarkan pada 2009. Adoptabilitas Inpari13 oleh petani masih di bawah empat persen.
 
"Bahkan ada daerah yang hanya 1 persen (tingkat adopsi Inpari13). Sebagian dari petani masih menggunakan benih jenis Ciherang yang kita produksi tahun 2000," ujar Bustanul dalam Forum Diskusi Ekonomi Politik (FDEP) di Kuningan, Jakarta Selatan, Senin 22 Mei 2017.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan data yang dipaparkannya, benih padi Ciherang merupakan jenis yang paling banyak digunakan oleh para petani saat ini. Tingkat penggunaan benih jenis Ciherang di beberapa sentra penghasil padi seperti Jawa Timur 41,02 persen, Jawa Barat 46,51 persen, Sulawesi Selatan 26,30 persen, dan Sumatera Barat 7,93 persen.
 
Sementara untuk penggunaan benih padi unggul jenis Inpari13 di Jawa Barat hanya 0,88 persen. Sementara di Jawa Timur 3,29 persen dan Sulawesi Selatan 3,85 persen. Parahnya lagi, petani di Sumatera Barat sama sekali belum menggunakan benih unggul ini.
 
Analisanya, dalam menghasilkan benih unggul padi perlu waktu 7-10 tahun. Sedangkan adopsi para petani terhadap benih padi unggul sampai titik tertinggi perlu waktu 10-15 tahun.
 
"Jangan-jangan penyuluhnya enggak kerja (mengenalkan benih padi unggul ke petani). Atau ada masalah serius untuk mempopulerkan benih unggul itu," papar dia.
 
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mengusulkan agar benih unggul yang dikeluarkan dan disarankan langsung diadopsi oleh petani, disertai survei konsumen. Sebab kadangkala, penggunaan benih oleh petani juga melihat demand atau permintaan dari konsumen.
 
"Kedua perlu pendampingan yang melibatkan penyuluh seperti sales door to door dengan insentif yang lebih. Kemudian libatkan juga teman-teman di universitas," pungkas Bustanul.
 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif