Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Menperin: Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar Ekonomi Digital

Ekonomi world economic forum
Nia Deviyana • 23 Januari 2019 19:57
Jakarta: Indonesia menjadi pasar ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan potensi kontribusi senilai USD150 miliar pada 2025 di era ekonomi digital.
 
Namun, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan Indonesia jangan hanya fokus menjadi pasar ekonomi digital. Menperin menegaskan Indonesia juga harus memacu produktivitas dan kualitas sektor manufaktur.
 
"Karena digitalisasi di sektor industri juga akan membawa perubahan terhadap sistem manufaktur. Dengan dipengaruhi gelombang teknologi baru seperti permintaan konsumen yang meningkat, pergeseran geopolitik, dan efisiensi pada sumber daya keberlanjutan," jelas Airlangga ketika menjadi narasumber Indonesia Outlook 2019 di rangkaian ajang World Economic Forum Annual Meeting di Davos, Swiss, Rabu, 23 Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lewat siaran pers yang diterima Medcom.id, Airlangga menegaskan Indonesia siap menyongsong era revolusi industri 4.0 yang sudah di depan mata. Untuk menyiapkan masa depan sektor manufaktur, Indonesia telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 dengan memilih lima sektor untuk menjadi pionirnya, dan menetapkan 10 program prioritas nasional.
 
"Lima sektor yang dipilih yakni industri makanan dan minuman, tektil dan pakaian jadi, otomotif, elektronik, serta kimia. Kelima sektor ini terbukti mampu berkontribusi hingga 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri manufaktur, kemudian menyumbang 65 persen pada total nilai ekspor dan 60 persen tenaga kerja industri ada di lima sektor tersebut," papar Airlangga.
 
Kemenperin memproyeksi lima sekor tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan. Aspirasi besarnya pada Making Indonesia 4.0 adalah menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada 2030.
 
"Kami juga sudah memikirkan strategi, menyusun kebijakan yang dapat menyesuaikan serta model bisnis baru, serta bagaimana memanfaatkannya untuk mendorong daya saing berbasis inovasi, skill, dan sustainability," kata Airlangga.
 
Sebab itu, selain pemberian fasilitas insentif fiskal, pemerintah sedang fokus menjalankan program peningkatan kompetensi SDM agar siap memasuki era industri 4.0. Dalam hal ini, Kemenperin telah menggandeng Swiss untuk melaksanakan program Skill For Competitiveness (S4C). Dari program itu, ada 25 pimpinan politeknik yang sedang mengikuti training.
 
"Jadi, program itu juga untuk menciptakan ekosistem inovasi," pungkasnya.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi