Illustrasi. MI/RAMDANI.
Illustrasi. MI/RAMDANI.

Daya Saing Pengaruhi 'Catatan Merah' Ekspor Indonesia

Ekonomi ekspor-impor
Ilham wibowo • 20 Mei 2019 15:34
Depok: Kondisi daya saing produk Tanah Air dinilai turut mempengaruhi catatan merah kinerja ekspor Indonesia pada April 2019. Nilai ekspor berada pada titik terendah sepanjang tahun ini dengan penurunan sebesar 10,80 persen dibanding dengan bulan sebelumnya.
 
Sekjen Departemen Perdagangan Kemendag Karyanto Suprih mengatakan kinerja ekspor yang melambat ini banyak dipengaruhi kondisi global terutama perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok. Selain itu, lesunya ekonomi pun terjadi di berbagai belahan dunia yang turut menghambat perdagangan.
 
"Pertumbuhan ekonomi dunia sedang melemah, kita sudah usaha, memang ada beberapa produk manufaktur kita masih kalah," kata Karyanto saat menggelar pasar murah di Pusdiklat Kemendag Depok, Jawa Barat, Senin, 20 Mei 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut pelemahan ekspor nonmigas pada April 2019 melebar 8,68 persen month to month dari USD12,98 miliar menjadi USD11,86 miliar. Grafik penurunan juga terjadi secara year to year sebesar 13,10 persen. Pada April 2018, ekspor nonmigas tercatat sebesar USD13,32 miliar.
 
Menurut Karyanto, potensi ekspor Indonesia sebenarnya bisa tinggi dengan beragam produk dengan kualitas terbaik serta produksi yang melimpah. Namun demikian, negara dengan dengan kekuatan ekonomi besar tak melirik beberapa produk lantaran daya saing.
 
"Banyak sekali (potensi ekspor) produk tekstil, alas kaki. Kalau pertanian ini kan soal daya saing kita belum efisien, masih mahal barang kita," ungkapnya.
 
Meningkatkan nilai tambah produk saat ini menjadi fokus pemerintah dalam meningkatkan kinerja ekspor. Karyanto optimistis capaian rencana kerja pemerintah (RKP) masih di atas target.
 
"Target dari RKP tujuh persen, kami maunya 11 persen, maunya optimis lah meskipun pertumbuhan ekonomi dunia sedang melambat," tuturnya.
 
Pemerintah saat ini terus mencari alternatif pasar untuk produk manufaktur. Negara nontradisional telah disasar untuk bersepakat dalam kerja sama perdagangan.
 
"Produk manufaktur ada nilai tambah, karena kalau produk primer kan kita banyak, buat apa enggak ada daya saing," ujarnya.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif