Salah satu mobil listrik. Foto ; AFP.
Salah satu mobil listrik. Foto ; AFP.

Gaikindo: Mobil Listrik Masih Mahal

Ekonomi mobil listrik
Nia Deviyana • 04 Desember 2019 19:48
Jakarta: Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai sukses tidaknya penjualan mobil listrik sangat bergantung pada permintaan masyarakat.
 
Sekretaris Gaikindo Kukuh Kumara menilai banyaknya insentif yang diberikan pemerintah tidak bisa menjadi parameter. Sebabnya, harga mobil listrik masih terbilang mahal.
 
"Masalahnya bukan efektif atau tidak efektif (insentif itu), tapi bagaimana masyarakat bisa menjangkau. Karena untuk mengeluarkan biaya di awal itu cukup besar dan yang punya kemampuan untuk mempertaruhkan uang sejumlah itu tidak banyak," ujarnya saat mengisi diskusi di BEI, Jakarta, Rabu, 4 Desember 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kukuh menilai kemampuan konsumen Indonesia dalam membeli mobil listrik berada di kisaran angka Rp300 juta.
 
"Jadi kalau Rp300 juta ke bawah itu yang kita alami dengan KBH2 (Kendaraan Bermotor Roda Empat Hemat Energi dan Harga Terjangkau), jelas dalam 2-3 tahun bisa mengambil market share 23 persen. Nah, kalau mobil listrik masih di atas Rp800 juta, meski tanpa pajak, mungkin segmen pasarnya hanya 0,5 persen," tukasnya.
 
Kukuh memberikan contoh mobil hybrid yang sudah lama diperkenalkan di Indonesia. Namun, dari segi penjualan masih mengecewakan.
 
"Satu bulan penjualannya mungkin hanya 1-2, belum dua digit per bulan. Bahkan tahun lalu ditargetkan jual 700 unit per tahun enggak tercapai," ungkapnya.
 
Kukuh menilai suksesnya program kendaraan listrik adalah dengan menciptakan daya beli masyarakat. Tidak hanya Indonesia, Inggris sebagai negara maju bahkan memerlukan waktu 15 hingga 20 tahun untuk menyukseskan program kendaraan listrik.
 
"Itu dengan syarat Inggris punya GDP (Gross Domestic Product) per kapita USD40 ribu," kata dia.
 
Insentif
 
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjanjikan insentif bagi pengguna electric vehicle atau kendaraan listrik. Salah satunya, pengguna tidak perlu khawatir melanggar peraturan ganjil-genap.
 
"Bapak ibu pemilik kendaraan listrik tidak usah beli dua mobil untuk ganjil-genap. Jadi pengguna mobil listrik ini dapat privilege (hak istimewa)," ujar Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kemenperin Putu Juli Ardika, pada kesempatan yang sama.
 
Selain itu, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2019, Putu mengatakan mobil listrik bebas pajak.
 
"Memberikan kendaraan listrik pajak barang mewah ini nol. Jadi ada perbedaan sekitar minimal 15 persen dengan kendaraan konvensional. Jadi 15 persen kita kasih insentif," kata dia.
 
Pemerintah juga menjanjikan bea balik nama yang lebih murah dibandingkan kendaraan konvensional. "Jadi kalau bapak ibu punya kendaraan listrik, bea balik nama kendaraan bermotor konvensional itu 12 persen. Kalau endaraan listrik ini paling mahal 2,5 persen," ungkapnya.
 
Senada dengan Putu, Vice President Pengembangan Teknologi dan Standardisasi PT PLN (Persero) Zainal Arifin menuturkan, pihaknya juga bakal memberikan insentif bagi pengguna kendaraan listrik yang mengisi daya pada pukul 22.00 hingga pukul 05.00 WIB.
 
"Ada studi bahwa paling baik itu ngecas pada saat over night setelah jam 10 malam sampai jam 5 pagi, dan itu kami kasih diskon 30 persen," kata Zainal.
 
Adapun insentif tidak hanya diberikan untuk masyarakat, tetapi juga untuk para investor. Putu mengungkapkan, semakin banyak investasi yang ditanamkan, maka insentif yang diberikan semakin besar.
 
"Di industrinya kalo bapak ibu mau investasi, itu diberikan tax holiday. Makin banyak investasinya makin besar tax holidaynya," tutupnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif