Kepala Bappebti Tjahya Widayati. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.
Kepala Bappebti Tjahya Widayati. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.

Kemendag Upayakan Bunga Resi Gudang Turun untuk Petani

Ekonomi kementerian perdagangan
Ilham wibowo • 03 Desember 2019 14:36
Jakarta: Sistem Resi Gudang (SRG) dinilai perlu dorongan kuat agar manfaat maksimal bisa dirasakan terutama bagi para petani dalam menggunakan aset negara. Tawaran insentif pun dinilai penting untuk menjaga daya saing SRG di sektor pendanaan.
 
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahya Widayati memaparkan SRG merupakan fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh para petani, kelompok tani, gapoktan maupun koperasi tani sebagai suatu instrumen tunda jual dan pembiayaan perdagangan. SRG di tiap daerah itu pun dapat menyediakan akses kredit dengan jaminan barang atau komoditi yang disimpan di gudang.
 
"Pelaku usaha, petani atau koperasi ini bisa manfaatkan SRG karena ada insentif subsidi dari bunga," kata Tjahja dalam sebuah diskusi di kantor Kemendag, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk meringankan beban bunga bank dalam pemanfaatan SRG, pemerintah telah menerbitkan peraturan tentang pemberian Subsidi Bunga Kredit Resi Gudang melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2009 tentang Skema Subsidi Resi Gudang (S-SRG). Pelaksanaan skema SRG tersebut juga telah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 66/M-DAG/PER/12/2009 tentang Pelaksanaan Skema Subsidi Resi Gudang.
 
Subsidi Bunga ini akan disalurkan melalui bank-bank pelaksana yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Beban bunga kepada peserta S-SRG tersebut telah ditetapkan sebesar enam persen per-tahun.
 
Namun, nilai bunga yang ditawarkan dengan segala kelebihan dalam pemanfaatan SRG tersebut dinilai belum kompetitif. Petani atau Gapoktan cenderung lebih memilih skema pembiayaan kredit usaha rakyat (KUR) langsung ke bank lantaran subsidi nilai bunga yang sama.
 
"Walaupun saat ini sudah sama dengan bunga KUR sebesar enam persen, ini bisa saja jadi kendala bagi kami kembangkan SRG karena peserta akan memilih langsung ke bank karena bunga sama," ungkapnya.
 
Kehadiran SRG sejatinya berpotensi untuk memberikan kontribusi yang signifikan bagi tujuan pembangunan sektor industri dan perdagangan yang berbasis sumberdaya lokal. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan suatu mekanisme yang meningkatkan akses pasar, ketersediaan informasi mengenai stok dan mutu komoditi kepada semua yang aktif dalam sektor komoditi, termasuk informasi harga.
 
Selain itu, pemanfaatan SRG juga bisa memberikan kepercayaan dan keamanan yang lebih besar dalam transaksi perdagangan dan mempermudah dalam memperoleh pembiayaan komoditi yang kompetitif. Pesertanya juga bisa menganalisis mitigasi risiko harga yang lebih efektif dan transparan.
 
"Ada niat kami untuk menurunkan bunga, akan berbicara dengan Kemenkeu dulu karena terkait subsidi bunga. Ada skema pembiayaan lain yang bunganya empat persen, kenapa tidak kita coba agar lebih menarik," tuturnya.
 
Sesuai dengan Permendag Nomor 33/2018 tentang Barang yang dapat disimpan di Gudang SRG, terdapat 17 komoditi yang dapat disimpan dalam gudang SRG yaitu gabah, beras dan jagung, kopi, kakao, lada, karet dan rumput laut, rotan, garam, gambir, teh, kopra, timah, bawang merah, ikan dan pala. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan bahwa jenis komoditi yang dapat disimpan dengan skema SRG itu bertambah dengan perubahan ketetapan.
 
Secara kumulatif sampai dengan November 2019, jumlah Resi Gudang yang telah diterbitkan tercatat sebanyak 3.341 dengan total volume komoditi sebanyak 110.226 ton dengan total nilai Rp718,19 miliar. Rinciannya yakni 84.272 ton gabah, 11.849 ton beras, 7.599 ton jagung, 1.312 ton kopi, 4.299 ton rumput laut, 3,14 ton kakao, 31,16 rotan, 701,73 ton garam, dan 157,43 ton lada.
 
Pemanfaatan Resi Gudang dari tahun ke tahun menunjukkan pertumbuhan yang fluktuatif. Nilai transaksi Resi Gudang tertinggi terjadi pada 2014 dengan telah diterbitkan sebanyak 605 Resi Gudang bervolume 21.649 ton komoditi senilai Rp116,51 miliar. Sementara pada 2019, hingga November ini telah diterbitkan sebanyak 379 Resi Gudang dengan volume 10.673 ton komoditi senilai Rp97,78 miliar.
 
Adapun pembiayaan Resi Gudang telah dilakukan oleh perbankan/LK seperti BRI, BJB, Bank Jateng, Bank Jatim, Bank Kalsel, Bank Sumsel Babel dan Bank Lampung. Selain perbankan, pembiayaan dengan skema SRG juga pernah dilakukan oleh PKBL PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) dan LPDB Kementerian KUKM.
 
Nilai kumulatif pembiayaan yang telah dicapai sampai dengan bulan November 2019 ialah sebesar Rp414,21 miliar. Pada periode yang sama terdapat 246 Resi Gudang yang diagunkan dengan nilai pembiayaan sebesar Rp54,44 miliar.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif