Petani. MI/RAMDANI.
Petani. MI/RAMDANI.

Pendapatan Petani Makin Tergerus saat Panen Raya

Ekonomi pertanian
Suci Sedya Utami • 03 Mei 2019 05:49
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) secara nasional pada April 2019 mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya. NTP turun 0,49 persen dari 102,73 menjadi 102,23.
 
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan penurunan NTP disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian yang lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian.
 
NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. Selain itu, NTP menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi petani. Sehingga semakin tinggi NTP, maka semakin meningkat daya beli petani.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Suhariyanto mengatakan NTP tanaman pangan mengalami penurunan yang sangat tajam 1,21 persen dari 105,31 menjadi 104,03. Sebab indeks harga yang diterima petani turun 0,50 persen. Sedangkan indeks yang harus dibayarkan petani naik 0,71 persen.
 
"Saat ini harga yang diterima petani terus turun karena memasuki musim panen raya. Sehingga harga gabah jatuh," kata Suhariyanto di kantor pusat BPS, Jakarta Pusat, Kamis, 2 Mei 2019.
 
Selama April, rata-rata harga gabah kering panen di tingkat petani menurun 5,37 persen menjadi Rp4.357 per kg dibandingkan Maret. Kemudian rata-rata harga gabah kering giling di tingkat petani juga turun 7,29 persen menjadi Rp5.127 per kg. Serta harga gabah kualitas rendah di tingkat petani turun 6,39 menjadi Rp4.022 per kg.
 
Penurunan juga terjadi pada NTP peternakan sebesar 0,34 persen. Hal ini terjadi karena indeks harga yang diterima naik 0,13 persen, lebih rendah dari kenaikan indeks harga yang harus dibayarkan sebesar 0,47 persen.
 
Begitu juga dengan NTP perkebunan rakyat yang turun 0,48 persen karena indeks harga yang diterima naik 0,10 persen lebih rendah dari kenaikan indeks harga yang harus dibayarkan sebesar0,59 persen. Serta Nilai tukar nelayan dan pembudidaya ikan turun 0,41 persen. Hal ini terjadi karena indeks harga yang diterima naik 0,10 persen, namun lebih rendah dibanding kenaikan indeks harga yang harus dibayarkan yang naik 0,52 persen.
 
Sementara untuk NTP hortikultura mengalami kenaikan 0,60 persen. Sebab harga yang diterima petani mengalami kenaikan 1,23 persen lebih tinggi dari kenaikan harga yang dibayarkan petani 0,62 persen.
 
Di sisi lain pada April 2019 terjadi inflasi perdesaan sebesar 0,81 persen, dengan kenaikan indeks tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran bahan makanan. Dari 33 provinsi yang dihitung Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani, 30 provinsi mengalami inflasi, dan tiga provinsi mengalami deflasi.
 
Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Gorontalo sebesar 1,75 persen dan deflasi tertinggi terjadi di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 0,22 persen.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif