Ilustrasi (MI/USMAN ISKANDAR)
Ilustrasi (MI/USMAN ISKANDAR)

Perdagangan Berjangka Komoditas Diprediksi Tumbuh di Tahun Politik

Ekonomi investasi komoditas
18 Januari 2019 08:31
Jakarta: Industri perdagangan berjangka komoditas diprediksi tetap tumbuh signifikan pada Tahun Politik 2019 karena bisa menjadi alternatif investasi baru. Meski demikian, tetap perlu ada keberpihakan dari pemerintah untuk mendukung industri tersebut tumbuh lebih maksimal di masa mendatang.
 
"Pengaruh Pemilihan Presiden (Pilpres) terhadap perdagangan berjangka komoditas sangat minor," kata Direktur Utama Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) Stephanus Paulus Lumintang, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Jumat, 18 Januari 2019.
 
Bahkan, menurut Paulus, perdagangan berjangka komoditas bisa menjadi kesempatan dan alternatif untuk investasi yang aman di tengah tahun politik dan ketidakpastian global. "Ini (perdagangan berjangka komoditas) adalah pasar global, bukan pasar lokal. Benar-benar sebuah kesempatan. Karena itu kami optimistis (tumbuh) pada 2019," ujar Paulus.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Diakuinya dibandingkan dengan pasar modal perdagangan berjangka komoditas terbilang lambat pertumbuhannya. Saat ini bursa komoditas baru memiliki sekitar 200 ribu akun atau nasabah. "Jadi ruang untuk tumbuhnya masih sangat besar," kata Paulus.
 
Hal senada dikemukakan Chief Business Officer Rifan Financindo Berjangka Teddy Prasetya. Sebagai pemimpin pasar pada perdagangan berjangka komoditi di Indonesia, ia memasang target pertumbuhan di atas 20 persen.
 
"Tahun ini kami menargetkan 3.500 nasabah baru dan transaksi sebesar 1,5 juta lot," kata Teddy.
 
Di 2018, Rifan Financindo Berjangka mampu menggaet 2.833 nasabah baru. Angka itu lebih besar dari pencapaian di 2017 sebanyak 2.122 nasabah. Demikian pula dengan volume transaksi pada 2018 mencapai 1,178 juta lot, naik 93,03 persen dibandingkan dengan di 2017 sebanyak 610.326 lot.
 
Teddy optimistis meski ada pesta demokrasi di Indonesia, peluang perdagangan berjangka tumbuh masih sangat besar. "Potensi terjadinya dinamika pada harga komoditas itu pasti, namun pasar akan stabil, karena beberapa permintaan komoditas seperti kopi dan emas diprediksi masih tetap tinggi," pungkas Teddy.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif