Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)

KKP: Kenaikan Tarif Kargo Pengaruhi Bisnis Perikanan

Ekonomi bisnis maskapai kelautan dan perikanan
Husen Miftahudin • 14 Februari 2019 14:14
Jakarta: Direktur Jenderal PDSPKP Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Rifky Effendi Hardijanto menyebut kenaikan tarif kargo mempengaruhi laju bisnis perikanan Tanah Air. Pasalnya, distribusi untuk mengangkut hasil perikanan kebanyakan mengandalkan jalur transportasi udara.
 
Saat ini, penggunaan jasa logistik untuk produk perikanan dari beberapa titik produksi melalui transportasi udara mencapai lebih kurang 50 persen dari total ikan yang didistribusikan.
 
"Kenaikan biaya ini berdampak pada kegiatan pelaku usaha perikanan sampai pada tahap penghentian usaha atau ekspor hasil perikanan karena harga jual dengan produk perikanan tidak kompetitif dengan biaya logistik yang lebih dari 20 persen," ungkap Rifky dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis, 14 Februari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan data dan informasi dari pihak penyedia angkutan udara, diketahui tingkat kenaikan biaya transportasi udara pada Januari 2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, rata-rata mencapai 183 persen.
 
Dari data tersebut, diketahui pula beberapa indikator yang menyebabkan pihak maskapai penerbangan menaikkan tarif biaya kargo, yaitu kenaikan biaya avtur sebesar 40 persen dan pelemahan nilai tukar rupiah hingga 14 persen.
 
Kondisi ini membuat Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) menginisiasi untuk melakukakan koordinasi dengan para stakeholder, di antaranya Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Koordinator Maritim, Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya, Angkasa Pura I dan pelaku usaha perikanan pada 6 Februari 2019 lalu di Kantor KKP.
 
Dalam koordinasi tersebut, Garuda Indonesia menyampaikan telah mengoperasikan satu dari empat pesawat freighter khusus barang yang dapat dimanfaatkan. Untuk transportasi hasil perikanan menggunakan pesawat freighter akan diawali dari Ambon.
 
"Para pelaku usaha dari Bali, Mimika dan Ambon telah sepakat melakukan kerja sama pengiriman komoditas ekspor (udang) dari lokasi produksi menggunakan freighter Garuda dengan biaya dan volume yang disepakati kedua belah pihak. Selanjutnya Ditjen PDSPKP akan memfasilitasi pertemuan untuk konsolidasi muatan dan kerja sama para pihak dalam distribusi hasil perikanan," tutur dia.
 
Pada tahun ini, lanjut dia, akan diinisiasi hub logistik untuk ekspor ikan dari Timur Indonesia via udara bertempat di Makassar. "Semua peserta rapat mendukungnya dalam penguatan sarana prasarana untuk distribusi ikan seperti run way, gudang, dan penambahan pesawat pada titik daerah produksi dan hub logistik ikan," pungkas Rifky.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi