Aturan Baru THR Buat Bisnis <i>Leisure</i> Bergairah
THR membuat bisnis leisure khususnya penginapan dan hotel semakin bergairah. (FOTO: ANTARA/Hendra)
Jakarta: Keputusan pemerintah pada tahun ini untuk memberikan tunjangan hari raya (THR) secara take home pay yang terdiri dari gaji pokok, tunjangan keluarga, jabatan, dan kinerja membuat bisnis leisure khususnya penginapan dan hotel semakin bergairah.

"Kami benar-benar terdorong oleh gaji ke-13 dan THR. Kalau tidak ada itu, mungkin naiknya tidak signifikan dan banyak juga perusahaan yang bayar gaji Juni sekaligus menambah (tingkat okupansi)," ujar Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani kepada Media Indonesia, Rabu, 13 Juni 2018.

Selain pemberian THR yang lebih besar, Hariyadi tidak menampik adanya pergeseran daya beli masyarakat ke leisure (liburan). "Tren pindah ke leisure memang ada dan kuat. Ditambah THR dan gaji ke-13, itu tambah besar lagi (peningkatannya)," tukasnya.

Berdasarkan catatan PHRI, kenaikan okupansi hotel pada wilayah tujuan mudik seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur mencapai 90 persen. "Akan semakin meningkat (setiap hari), secara umum (tingkat okupansi) bisa sampai 85-90 persen," ucapnya.

Di sisi lain, lanjut Hariyadi, untuk hotel-hotel di Jakarta, tingkat okupansinya justru 'terjun bebas' menjadi sekitar 20 persen. Tingkat okupansi yang rendah itu hampir sama dengan libur Lebaran tahun sebelumnya. "Kalau di Jakarta, 'terjun bebas' karena semua orang keluar kota. Mungkin kisarannya rata-rata sekitar 20 persen," jelasnya.

Ia memprediksi tingkat okupansi hotel di Jakarta kembali normal setelah cuti bersama selesai, yakni pada 21 Juni. "Biasanya ada acara halalbihalal, tapi perkiraan kami banyak kegiatan seperti Asian Games, Juli sudah mulai masuk delegasi pendukungnya," pungkasnya.

Strategi Promo

Tingkat okupansi yang turun dibenarkan Public Relation Manager Hotel Dafam Teraskita Jakarta, Imanuelia Kristi. Hotel di kawasan Cawang, Jakarta Timur, itu merasakan penurunan okupansi pada libur Lebaran hingga 70 persen jika dibandingkan dengan hari biasa.

"Kalau okupansi, jelas lebih menurun karena customer dan klien mudik. Jadi lebih berkurang dibandingkan hari biasa sampai 70 persen," ujar Kristi saat ditemui Media Indonesia.

Menurut Kristi, penurunan okupansi saat libur Lebaran itu merupakan hal biasa terjadi tiap tahunnya. "Kalau hotel (di Jakarta) setiap libur Lebaran dan long weekend pasti turun."

Meski begitu, lanjut dia, pihaknya memiliki strategi agar masyarakat yang tidak mudik masih tertarik untuk menginap di hotel dengan berbagai promo. "Untuk Lebaran kita biasanya di hari biasa hanya kamar dan breakfast, kita tambah benefit-nya misal ada menu tambahan barbeque atau brunch," tukasnya.

Pihaknya juga memanfaatkan momen Piala Dunia sepak bola dengan menggelar nonton bareng. Diharapkan, hal itu bisa meningkatkan penjualan untuk food and beverage (F&B).

Kristi menambahkan, okupansi hotel akan kembali normal pada awal Juli seiring dengan banyaknya perusahaan dan instansi pemerintah yang mengadakan halalbihalal. (Media Indonesia)

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id